Tampilkan postingan dengan label Study. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Study. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 Februari 2014

Kritik Sosial: Pertentangan Kelas Atas dan Kelas Bawah dalam Lirik Lagu "Bento" dan "Bongkar" karya Swami

oleh: Immawati Fitri Lestari

Pengantar
Musik merupakan bagian dari kebudayaan. Melalui musik, manusia mengekspresikan perasaan, harapan, aspirasi, dan cita-cita. Melalui musik pula manusia dapat merepresentasikan pandangan hidup dan semangat zamannya. Oleh karena itu, melalui musik, kita juga bisa menangkap ide-ide dan semangat yang mewarnai pergulatan zaman yang bersangkutan. 

Indonesia adalah negeri yang kaya dengan berbagai karya seni, khususnya seni musik, yang mewakili pandangan hidup dan semangat zamannya. Salah satu era yang penting dalam perjalanan bangsa ini adalah Orde Baru yang dimulai dengan naiknya Jenderal Soeharto ke tampuk pimpinan pemerintahan pada penghujung 1960-an sampai berakhirnya kekuasaan Presiden Soeharto pada penghujung 1990-an.

Salah satu grup musik yang sempat mewarnai era Orde Baru adalah Swami, dengan Iwan Fals sebagai ikonnya. Mereka telah menelurkan sejumlah album. Salah satu yang paling hits adalah album Swami I. Lirik-lirik lagu dalam album Swami I ini mewakili pandangan hidup mereka, sekaligus mengekspresikan semangat zamannya. Untuk memahami lirik-lirik lagu yang ditampilkan dalam album Swami I, kita perlu meninjau konteks kondisi sosial, ekonomi, dan politik Indonesia pada era tersebut.

Penghujung 1980-an adalah saat rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto mencapai puncak kekuatannya. Pemerintah Soeharto menjadikan ekonomi sebagai panglima dan seluruh elemen masyarakat dimobilisasi di bawah panji pembangunan. 

Konsep utama pembangunan adalah perbaikan mutu kehidupan rakyat. Dalam pembangunan, seharusnya tercakup unsur perubahan yang berdimensi sosial, kultural, dan ekonomi, serta bersifat kualitatif dan kuantitatif. Namun, seperti yang banyak terjadi di negara berkembang, pembangunan di Indonesia telah direduksi maknanya menjadi “pertumbuhan ekonomi” (economic growth) semata sehingga pembangunan secara sederhana berarti pertumbuhan pendapatan setiap orang di daerah yang secara ekonomis terbelakang. 

Namun harus diakui, pembangunan ekonomi yang substansial memang pernah berjalan di Indonesia. Pada tahun 1966, pendapatan per kapita tahunan di Indonesia sekitar US$ 75. Ekonomi ini terus tumbuh lewat utang luar negeri dan sumbangan sektor migas. Pertumbuhan ekonomi riil selama tahun 1980-an dan 1990-an hampir selalu berkisar antara 6 sampai 7 persen per tahun. Inflasi tahunan rata-rata masih dapat ditekan di bawah level 10 persen. Perbaikan yang berarti juga dicapai dalam pemberantasan tuna aksara di kalangan orang dewasa, peningkatan usia harapan hidup, menurunnya angka kematian bayi, dan pembatasan tingkat pertumbuhan penduduk lewat program KB.

Berbagai hasil ini mendorong Bank Dunia untuk menjadikan Indonesia sebagai contoh model sukses pembangunan. Indonesia diajukan sebagai tolok ukur kinerja negara-negara berkembang lain dalam Laporan Pembangunan Dunia (World Development Report) 1990, yang disusun oleh Bank Dunia. 

Namun, ada harga yang harus dibayar untuk “kesuksesan ekonomi” itu. Untuk mengejar pertumbuhan ekonomi tersebut, pemerintah memerlukan kestabilan politik di dalam negeri. Selanjutnya, dengan dalih perlunya stabilitas politik, pemerintah bersikap represif dan memberlakukan sejumlah aturan otoriter. 

Pers dan media massa dikontrol ketat. Media yang kritis dibredel dan dilarang terbit. Jumlah partai politik dibatasi, dan mereka tidak boleh masuk ke desa-desa. Sementara pegawai negeri dan anggota keluarga ABRI dipaksa memilih Golkar, partai penguasa waktu itu. Lewat para pejabat, Golkar justru leluasa masuk ke desa-desa.

Tokoh-tokoh oposisi yang kritis dipenjarakan atau disingkirkan, sedangkan kebebasan berekspresi di bidang seni juga ditindas, khususnya kalangan seniman yang tidak sejalan dengan kepentingan rezim. Jika diperlukan, pemerintah juga tidak segan-segan menggunakan cara-cara represif, demi “menjaga ketertiban masyarakat” dan “melancarkan jalannya roda pembangunan”.

Karena yang dinomorsatukan adalah pertumbuhan ekonomi, sementara distribusi ekonomi atau pemerataan kesejahteraan tidak menjadi prioritas, maka terjadilah kesenjangan antara kelompok elite atau mereka yang diuntungkan oleh pembangunan, dan rakyat yang tertinggal atau ditinggalkan dalam proses pembangunan. Pembangunan nasional yang berlandaskan pada Trilogi Pembangunan hanya semakin menjadi narasi besar dan sebuah mitos belaka.

Ada sejumlah konglomerat, pengusaha, birokrat, dan pejabat yang karena kedekatan dengan penguasa, menikmati kue pembangunan. Sebaliknya, banyak rakyat kecil yang hidupnya tertekan. Teori bahwa kemakmuran di kalangan atas pada akhirnya akan mengalir ke bawah (trickle-down effect) dan dinikmati oleh kalangan bawah, ternyata tidak terbukti. Yang kaya bisa semakin kaya, sedangkan yang miskin semakin miskin.

Presiden Soeharto pun diduga memiliki kekayaan miliaran dollar pada tahun 1989. Jika digabung dengan harta istri dan anak-anaknya, ditambah lingkaran kroni sipil dan militernya, jumlah tersebut membengkak sampai puluhan miliar dollar. Keakuratan angka ini mungkin bisa diperdebatkan, tetapi fakta bahwa Soeharto beserta keluarga dan kroni-kroninya telah menumpuk kekayaan dengan memanfaatkan kekuasaan, nampaknya disepakati oleh banyak pengamat. 

Strategi politik dan ekonomi Soeharto—yang bermotivasi pengumpulan harta besar-besaran bagi segelintir manusia, sementara mengesampingkan kepentingan mayoritas penduduk—telah ditanamkan di Indonesia sejak akhir tahun 1960-an. Sayangnya, sistem politik Indonesia yang otoriter menyulitkan berjalannya pengawasan yang efektif terhadap pihak-pihak yang ingin menggunakan kekayaan negara untuk keuntungan pribadi.
 
Kesenjangan semacam inilah yang dilihat para anggota Swami dalam interaksinya sebagai seniman dengan masyarakat sehari-hari. Gambaran suram dan memrihatinkan inilah yang memberi inspirasi pada karya-karya mereka, yang bercorak kritik sosial. Pihak yang kaya dan berkuasa asyik dengan ambisi dan kenikmatan hidupnya sendiri, sementara rakyat kecil yang seharusnya disejahterakan ternyata nasibnya malah diabaikan.

Album Swami I dipilih karena album ini dianggap mewakili semangat zamannya. Salah satu ukuran keterwakilan itu adalah respons positif masyarakat terhadap album serta lagu-lagu di dalamnya, yang bisa dilihat dari angka penjualan. Album Swami ini meledak di pasaran. Angka penjualan album ini sangat tinggi, hingga mencapai 800 ribu kopi dalam jangka waktu satu bulan. Padahal, angka penjualan tersebut dicapai tanpa promosi besar-besaran. Swami I berhasil mencapai sukses di pasar industri musik Indonesia dengan lagu-lagu yang sarat dengan kritik sosial sekaligus menghibur.

Hampir semua lagu di album Swami I ini menjadi hits, tetapi yang dikategorikan sebagai hits besar Swami adalah lagu “Bento” dan “Bongkar”. Sebentar saja lagu "Bento" menjadi trade mark Iwan Fals. Di mana ada Iwan di situ ada "Bento". Sementara lagu "Bongkar" dinobatkan sebagai Lagu Indonesia Terbaik No. 1 Sepanjang Masa oleh Majalah Rolling Stone.

Grup Musik Swami
Swami adalah grup musik yang dibentuk oleh Setiawan Djodi, Iwan Fals, Sawung Jabo, Innisisri, Naniel, dan Nanoe pada tahun 1989. Swami dijadikan nama grup, atas usul Sawung Jabo yang berasal dari plesetan “suami” karena semua anggotanya berstatus suami. Kesepakatan awal para anggota Swami adalah membentuk grup untuk jangka waktu tiga tahun. Oleh karena itu, Swami membubarkan diri pada 1991.

Tidak lama setelah dibentuk, Swami berhasil mengeluarkan album yang diberi judul "Swami I". Dalam album Swami I yang berformat kaset, terdapat sepuluh lagu yang masing-masing side memuat lima lagu. Dalam side A termuat lagu-lagu, dengan data musisi yang menciptakan lagu tersebut. Lengkapnya adalah sebagai berikut.
Side A
1.    Bento (Iwan Fals/ Naniel ) –SWAMI
2.    Bongkar (Iwan Fals/ Sawung Jabo) –SWAMI
3.    Badut (Iwan Fals/ Sawung Jabo/ Naniel) –SWAMI
4.    Esek.Esek..Udug.Udug.. (Iwan/ Jabo/ Naniel) –SWAMI
5.    Potret (Iwan Fals/ Sawung Jabo/ Naniel) –SWAMI
Sementara dalam side B, lagu-lagu yang dimuat dengan data musisi yang menciptakannya adalah sebagai berikut.
Side B
1.    Bunga Trotoar (S Djody/ Iwan/ Jabo/ Naniel) –SWAMI
2.    Oh... Ya! (Iwan Fals/ Sawung Jabo/ Naniel) –SWAMI
3.    Condet (Iwan Fals/ Naniel) –SWAMI
4.    Perjalanan Waktu (Iwan Fals/ S.Jabo/ Naniel) –SWAMI
5.    Cinta (Iwan Fals/ Sawung Jabo/ Naniel) –SWAMI

Album "Swami I" diproduksi pada tahun 1990 oleh Airo Records Productions, suatu perusahaan rekaman yang dapat dikelompokkan sebagai minor label. Pada sampul album ini nama Iwan Fals dicantumkan di atas nama Swami, atas usulan Setiawan Djodi. Pertimbangannya adalah tanpa nama Iwan Fals, album Swami tidak akan dilirik. Dengan demikian Iwan Fals-lah yang dijadikan trade mark, bukan Sawung Jabo dengan grup Sirkus Barock-nya. 

Saat itu Iwan Fals dinilai sebagai musisi yang berani mengritik korupsi dalam pemerintah yang berkuasa (terutama pada masa rezim Orde Baru) dan yang lirik-liriknya menyentuh hati berbagai kalangan masyarakat (terutama rakyat kecil). Hal ini menjadi istimewa mengingat tidak banyak artis yang memiliki keberanian dan karakter merakyat seperti Iwan Fals. Kebanyakan artis pop pada masa itu dipandang kurang peka pada masalah-masalah sosial sehingga ada yang mengatakan bahwa musik Iwan Fals merupakan suara rakyat (voices of people). Faktor utama yang menyebabkan popularitas lagu-lagu Iwan Fals dan kelompok musik Swami adalah tema musik yang mengambil inspirasinya dari kehidupan sehari-hari sehingga meninggalkan kesan memasyarakat, serta kritik sosialnya yang dinilai berani.

Masuknya Setiawan Djodi ke dalam kelompok Swami merupakan suatu anomali. Pada satu sisi kelompok Swami adalah kelompok musik yang mengusung lagu-lagu protes sosial sebagai tema utamanya, pada sisi lain Setiawan Djodi adalah bagian dari kelas sosial yang diprotes. Setiawan Djodi dikenal sebagai seorang konglomerat kaya raya, yang punya hubungan dekat atau perkawanan dengan putra-putra Presiden Soeharto.

Popularitas memang tidak otomatis identik dengan kualitas karya. Namun, dalam melihat kualitas musik Swami, harus dipahami bahwa seni (modern) tidak hanya identik dengan keindahan, melainkan meliputi kategori-kategori lainnya, seperti tragis dan ketidakharmonisan (sebagai kebalikan dari keselarasan), serta pemberontakan. Manusia memang tidak selalu menjadi homo estheticus, melainkan juga manusia sosial, yang berakar pada sejarah dan kondisi sosial-masyarakat tertentu sehingga tidak mengherankan, jika dalam menciptakan sebuah karya seni seorang seniman akan mendapat pengaruh pula dari lingkungan dan zamannya.

Pembuatan Lagu
Menurut pengakuan Iwan Fals, sebagai bagian dari grup Swami, semua lagu yang dibuatnya jujur dan memiliki peristiwa, meskipun ada unsur pendramtisasian. Unsur pendramatisasian paling tampak pada lagu-lagu pesanan.

Secara pasti Iwan Fals juga menyatakan bahwa tujuannya membuat lagu adalah untuk dijual dan laku. Namun, antara pilihan laku dan suara hati, Iwan menyatakan suara hati adalah pilihannya, meskipun unsur ingin laku selalu memengaruhinya. Hanya saja pada saat membuat syair, tidak ada urusannya dengan itu.

Lagu “Bongkar”, misalnya, pada awalnya bukan seperti yang sudah ada di album rekaman "Swami I". Gagasan lagu "Bongkar" berasal dari beberapa kasus penggusuran yang terjadi pada saat Orde Baru, seperti kasus Kedung Ombo, Kaca Piring, dan Way Jepara. Kemudian Sawung Jabo mengusulkan perubahan lagu “Bongkar” dan disetujui oleh anggota Swami.

Perubahan dilakukan dengan tidak membahas kasus per kasus dalam setiap lagu. Iwan melihat usulan Sawung Jabo tersebut sebagai pemikiran yang tepat, karena lagu “Bongkar” lebih langsung mengenai sasaran, lebih otentik dan jujur. Sementara “Bento” mengusung metafora penguasa yang dikritik di dalam “Bongkar”.

Keberadaan Iwan Fals, yang dikenal dengan lagu-lagunya yang penuh dengan kritik sosial, sebagai anggota grup band SWAMI menjanjikan bahwa album "Swami I" diwarnai oleh lirik lagu yang bersifat mengritik penguasa. Memang jika dilihat dari permukaan, nampaknya dua lirik lagu ini ditandai dengan kritikan terhadap penguasa dan penindasan yang mereka lakukan kepada masyarakat miskin. Kedua lirik lagu mengangkat dua kelas sosial yang saling berseberangan, yaitu kelas bawah yang tertindas dan kelas atas yang menindas.

Kelas bawah diwakili oleh lirik lagu “Bongkar” sementara kelas atas diwakili oleh lirik lagu “Bento”. Kelas bawah dalam kedua lirik ini digambarkan sebagai kelompok orang yang tertindas oleh kemiskinan, kesewenangan, dan keserakahan penguasa. 

Bento: Satire terhadap Penguasa
Lirik lagu “Bento” yang diciptakan oleh Iwan Fals dan Naniel adalah lagu yang dinyanyikan Iwan Fals. Telah kita ketahui bahwa banyak lagu Iwan Fals banyak yang menggunakan tema kritik sosial dan pemerintah. Liriknya tentang seorang pengusaha serakah dan korup. Bisnisnya “menjagal apa saja” asal dia senang dan persetan orang susah. 

“Bento” artinya ‘goblok’ dalam dialek Jawa Timuran. Ketika mengarang “Bento”, Iwan sempat memperhatikan seorang pengusaha, yang kaya dan kejam, punya rumah real estate. Karakter Bento dibuatnya dari pengusaha ini. 

Sebagaimana teori semiotik Roland Barthes yang digunakan dalam  pembahasan ini, keseluruhan lirik lagu “Bento” diambil untuk menentukan dan mengetahui makna kritik sosial yang terkandung dalam lirik lagu tersebut. Gagasan umum adalah sebagai konklusi dari bait-bait yang ada dalam kontruksi lirik lagu, seperti pada salah satu bait dibawah ini (bait 1).
Namaku Bento rumah real estate
Mobilku banyak harta berlimpah
Orang memanggilku boss eksekutif
Tokoh papan atas atas segalanya
Asyik

Kata “nama” di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna ‘panggilan orang’ akan tetapi dengan penambahan imbuhan -ku berarti menamai dirinya Bento dan diartikan bahwa penyair menujukkan lirik lagu ini adalah penggambaran yang serupa yang ada di dalam lirik lagu “Bento”. 

“Bento” dalam bahasa sehari-hari di Rembang sering ditujukan pada hal-hal yang berbau ketidakwarasan, perilaku yang dianggap tidak pantas, pemikiran yang bodoh, atau bahkan diucapkan karena jengkel yang berlebihan. Maka, jangan sekali-kali sembarangan mengucapkan kata “bento” di Rembang. 

Iwan Fals membuat lagu yang berjudul “Bento” tapi itu berbeda arti dengan Bento-nya orang Rembang, dan Bento-nya orang Jepang. Lagu “Bento” Iwan Fals ini menurut kabar adalah singkatan untuk menyindir salah satu penguasa negeri kita saat itu karena memang Iwan Fals terkenal dengan lagu-lagu yang kritikan untuk pemerintah.

Kata “bento” pada lirik di atas sebenarnya belum secara pasti dan tegas ditujukan kepada tokoh/ orang yang jelas. Lirik lagu pada bait ini penulis menyampaikan suatu kisah yang terjadi dalam masyarakat, karena menurut Iwan Fals sendiri terinspirasi dari seorang pengusaha, yang kaya dan kejam, punya rumah real estate. “Tapi saya nggak perlu sebut (namanya). Saya nggak kenal pribadi, kenal jarak jauh,” katanya ketika melakukan proses taping untuk acara Kick Andy di Metro TV.

Karakter Bento dibuatnya dari pengusaha ini tidak disangka menjadi sangat kontroversial saat pertama dirilis karena sarat dengan kritikan terhadap sistem pemerintahan Indonesia saat itu karena saat itu masa orde baru yang dipimpin oleh Soeharto. Banyak persepsi mengenai lagu ini ada yang mengatakan lagu “Bento” diasosiasikan dengan singkatan dari Benteng Soeharto. Ada juga yang berpendapat bahwa “Bento” adalah Benny Soeharto yang merupakan nama kecil dari Hutomo Mandala Putra atau yang lebih dikenal dengan nama Tommy Soeharto, anak bungsu Presiden Soeharto. “Bento” juga kerap disebut sebagai akronim Benci Soeharto.

Terlepas dari itu, makna bait pertama lirik ini bahwa seseorang yang bernama Bento memamerkan kekayaannya yang banyak. Ia memiliki status sosial dan kekuasaan yang tinggi. Bento di dalam lagu ini adalah seseorang pengusaha papan atas.

Kata “berlimpah” di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bermakna ‘mewah, dan serba banyak’. Ini ditandai dengan tingkat kekayaan yang dipamerkannya: rumah, mobil, dan harta. Pemakaian kata “real estate” yang berasal dari bahasa Inggris menunjukkan bahwa rumah yang dimaksud bukan rumah biasa, melainkan rumah yang memiliki nilai sosial tertentu. Mobil yang dimilikinya juga tidak hanya satu, tetapi banyak yang semakin diperkuat dengan harta yang berlimpah untuk mengukuhkan kedudukannya sebagai tokoh kelas atas.

Untuk memperlihatkan kedudukannya, ia memosisikan dirinya sebagai  boss eksekutif. Kata “boss” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) menunjukkan bahwa ia berada pada puncak pimpinan sehingga memiliki kekuasaan yang besar atas bawahannya. Kata “eksekutif” dapat memiliki dua arti karena dapat berarti ‘top managemen dari suatu perusahaan’, dapat juga mengacu pada badan eksekutif pemerintahan. Tidak cukup dengan memperlihatkan posisi strukturalnya, Bento menegaskan bahwa ia merupakan tokoh papan atas, atas segalanya yang dapat diartikan bahwa ia menganggap dirinya sebagai tokoh masyarakat di dalam segala bidang.

Lagu ini menceritakan sebuah jabatan dapat mengubah karakter seseorang menjadi lebih mendahulukan nafsunya ketimbang jabatan yang mereka pegang. Seperti anggota DPR seringkali disorot tajam oleh publik dikarenakan gaya hidup yang berlebihan yang jauh sekali dari konsep merakyat. Seringkali ditemukan di area parkir mobil gedung DPR deretan mobil mewah yang seakan–akan berlomba mana yang paling mahal. Seperti pada cuplikan artikel berikut: 

Menurut Badan Kehormatan (BK), penampilan mewah anggota DPR dapat menimbulkan sorotan negatif dari publik. Padahal, sebagai wakil rakyat, anggota Dewan harus menjaga citra, martabat, kehormatan, dan kredibilitas DPR.Anggota Dewan pernah dikritik lantaran bergaya hidup hedonis. Hal itu terlihat dari deretan mobil mewah dengan harga miliaran rupiah di area parkir mobil anggota Dewan.(Sandro Gatra, “Anggota DPR Diminta Tak Pakai Mobil Mewah” KOMPAS.com, 7 Februari 2012).

Lirik lagu “Bento” diciptakan oleh Iwan Fals dan Naniel. Iwan Fals yang bernama lengkap Virgiawan Listanto lahir di Jakarta, 3 September 1961. Ia adalah seorang penyanyi beraliran balada yang menjadi salah satu legenda hidup di Indonesia yang akan mengantarkan kita pada suatu isu yang hendak coba disuarakan oleh mereka yaitu tentang kritik sosial.

“Bento” adalah judul lagu yang menggema di penjuru negeri pada tahun 1990-an. Penggambaran lirik lagu “Bento” adalah seseorang pengusaha papan atas, hal ini terbukti dengan isi bait pertama lirik lagu, yaitu Bento adalah bos eksekutif, memiliki rumah yang mewah, mobil yang banyak, dan harta yang berlimpah.

Wajahku ganteng banyak simpanan
Sekali lirik oke sajalah
Bisnisku menjagal, jagal apa saja
Yang penting aku senang aku menang
Persetan orang susah karena aku
Yang penting asyik
Sekali lagi asyik...

Deksripsi diri yang dilakukan Bento pada bait kedua lirik lagu tersebut memperlihatkan nada sombong dan pongah. Ia tampak begitu menikmati kedudukan, kekayaan dan keberhasilannya. Ia bahkan melanjutkan deskripsi dirinya dengan menyombongkan wajahnya yang ganteng yang menjadikannya pujaan banyak wanita. Banyak simpanan yang mengacu pada wanita yang sekali dilirik mau dijadikan simpanannya merupakan suatu cara untuk menunjukkan bahwa kekuasaannya tidak berhenti pada materi dan kedudukan, tetapi juga manusia. Secara implisit pernyataan ini menunjukkan bahwa kekuasaannya begitu besar sehingga ia dapat dengan mudah menjatuhkan orang lain yang diinginkannya.

Lagu "Bento"  direkam di Condet pada bulan April 1989. Lagu “Bento” ini merupakan salah satu lagu yang berisi kritik-kritik sosial terhadap pemerintahan Orde Baru yang terjadi pada akhir 90-an. Orde baru merupakan suatu rezim yang telah memberikan berbagai catatan sejarah panjang dari kekuasaan otoriter yang menghegemoni masyarakat. Kekuasaan negara yang begitu kuat membelenggu sendi-sendi kehidupan setiap warga negara. 

Kritikan tersebut sebagai reaksi terhadap kondisi sosial pada waktu itu, telah menjadi inspirasi bagi perubahan sosial dalam masyarakat. Hal ini sejalan dengan tujuan karya seni yaitu sebagai motivator ke arah aksi sosial yang lebih bermakna, sebagai pencari nilai-nilai kebenaran yang dapat menangkat situasi dan kondisi alam semesta.

Di dalam karya ini juga berisikan tentang kritik-kritik terhadap pejabat-pejabat yang menggunakan kedudukan untuk memperkaya dirinya. Mereka ditampilkan sebagai orang-orang yang menikmati kue pembangunan, punya banyak uang, harta, rumah mewah, dan jabatan tinggi, serta berkuasa, bisa berbuat semaunya, hidup enak, dan nyaman. Mereka asyik dengan kenikmatan hidupnya sendiri, dan tidak peduli dengan hidup orang lain yang ditindas atau menjadi korban aksi manipulasinya.

Lagu tersebut memberikan warna perlawanan yang cukup radikal di masa itu hingga penguasa merasa risih dengan konser-konser dan lantunan lagu-lagu yang terlalu kritis mengritisi pemerintah. Lagu “Bento” cukup kontroversial menurut Iwan Fals: 

“Lagu tersebut menceritakan penindasan. Tapi pada waktu itu diplintir oleh siapa saya nggak tahu. Kan menarik waktu itu Bento muncul singkatan-singkatan di media. Benteng Soeharto, Benci Soeharto. Buat jualan media itu bagus. Saya sempat bangga juga soal itu. Kan ditulis oleh koran-koran hahaha…”

Bento di sini dikisahkan sebagai seorang yang tampan, berkuasa dan kaya raya. Namun Bento ternyata licik, dia memanfaatkan kekuasaannya untuk menumpuk kekayaan, menipu dan menerima upeti. Dalam kesehariannya Bento menutupi keburukannya dengan selalu bicara soal moral dan keadilan ini merupakan makna sesungguhnya dari lirik lagu “Bento”.
Khotbah soal moral omong keadilan
sarapan pagiku
Aksi tipu-tipu lobbying dan upeti
woh... jagonya...

Maling kelas teri bandit kelas coro,
itu kan tong sampah
Siapa yang mau berguru, datang padaku
Sebut tiga kali namaku:
Bento... Bento... Bento...
Asyik... Asyik!!!

Bento juga memperlihatkan dirinya sebagai penipu ulung yang tidak memiliki rasa bersalah. Ia bahkan memroklamasikan dirinya sebagai penjahat paling top, jauh di atas maling dan bandit. Secara keseluruhan deskripsi Bento tentang dirinya sebenarnya merupakan suatu strategi untuk membongkar apa yang ada di balik kekayaan dan keberhasilan yang tampak dari luar tanpa harus menudingkan jari kepada orang lain karena Bento membuka kedoknya sendiri. Pengulangan kata asyik semakin menekankan bahwa kesenangan dan kepuasan adalah yang paling penting baginya. Ia tidak perduli pada akibat yang ditimbulkannya pada orang lain. 

Inilah gambaran riil dari kuatnya negara pada waktu Orde Baru. Orde Baru merupakan suatu rezim yang telah memberikan berbagai catatan sejarah panjang dari kekuasaan otoriter yang menghegemoni masyarakat. Kekuasaan negara yang begitu kuat membelenggu sendi-sendi kehidupan setiap warga negara. Kenyamanan dan keserasian yang diciptakan dengan bingkai represif, penggunaan aparat negara dalam penciptaan tatanan tersebut ternyata menjadi bara dalam sekam (bahaya laten), yang akhirnya meledak  menjadi benturan keras antara rakyat dan negara hingga jatuhnya rezim orde baru di tangan rakyat dan kelas menengah pada tahun 1998. Sebelum terjadinya gelombang perlawanan besar-besaran hingga tergulingnya Orde Baru pada Tahun 1998.

Selama Orde Baru, banyak jadwal acara konser Iwan yang dilarang dan dibatalkan oleh aparat pemerintah, karena lirik-lirik lagunya dianggap dapat memancing kerusuhan. Pada awal karirnya, Iwan Fals banyak membuat lagu yang bertema kritikan pada pemerintah. Beberapa lagu itu bahkan bisa dikategorikan terlalu keras pada masanya, sehingga perusahaan rekaman yang memayungi Iwan Fals tidak berani memasukkan lagu-lagu tersebut dalam album untuk dijual bebas. Berikut beberapa lagu yang bernada kritik terhadap hegemoni rezim Orde Baru.
1.    Sarjana Muda Sarjana Muda / 1981 Kritik terhadap menyempitnya lapangan kerja.
2.    Galang Rambu Anarki / 1982 Kritik terhadap kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat.
3.   Wakil Rakyat Wakil Rakyat / 1987 Kritik terhadap anggota dewan yang tidak memperjuangkan hak-hak rakyat.
4.    Bongkar / 1989 Kritik terhadap penguasa yang otoriter.

Iwan Fals dikenal sebagai salah seorang seniman garda depan melawan penindasan yang dilakukan rezim represif Soeharto pada dekade 1980-an. Namun penyanyi folk legendaris ini secara terbuka menyatakan terima kasih dan kekagumannya kepada Orde Baru pimpinan Presiden Ke-2 RI, Soeharto.

“Saya terus terang berterimakasih kepada Orde Baru karena mereka berjasa ikut melahirkan lagu-lagu seperti `Guru Oemar Bakrie`, `Wakil Rakyat`, `Bento`, `Bongkar`, dan sebagainya. Kalau nggak ada Orde Baru, nggak ada yang namanya Iwan Fals. Saya berterima kasih untuk itu. Tapi ini tidak berarti saya setuju dengan segala tindakannya selama berkuasa,” jelas Iwan ketika melakukan proses taping untuk acara Kick Andy di Metro TV pada Rabu (27/1/2010) malam.

Kritik Sosial (Menurut Walzer,1985 30)  suatu aktifitas yang berhubungan dengan penilaian (judging), perbandingan (comparing), dan pengungkapan (revealing) mengenai kondisi sosial suatu masyarakat yang terkait dengan nilai- nilai yang dianut, dijadikan dan diekspresikan melalui musik. Musik selalu memiliki simbol yang dikemas sedemikian rupa hingga menjadi media penyampai pesan yang efektif bagi masyarakat. Pesan yang terkandung dalam musik beragam, pesan tentang cinta, kerinduan hingga pesan perjuangan yang mengandung aspirasi tertentu demi perubahan. Iwan Fals merupakan sosok musisi yang cukup konsisten dalam perjuangan menggugat Orde Baru. Kritik-kritik pedas dan lugas selalu dilontarkan dalam setiap karyanya. Wacana kritik dalam karya Iwan Fals ternyata didukung oleh sebagian besar masyarakat terutama lapisan bawah, karena lagu tersebut mewakili dan menyuarakan hati nurani rakyat. Dukungan itu termanifestasikan dengan terbentuknya fans fanatik yang sering disebut Oi (Orang Indonesia).

Bentuk-bentuk kritik sosial yang telah dipaparkan dalam lagu “Bento”, kritik sosial dapat dikelompokkan berdasarkan pengekspresiannya dalam dua jenis, yakni kritik yang dilakukan secara terbuka dan kritik yang dilakukan secara tertutup atau terselubung (Sepriana Yolandi Ataupah, 2012). 
1. Kritik sosial secara terbuka berarti kegiatan penilaian, analisis atau kajian terhadap keadaan suatu masyarakat tertentu yang dilakukan secara langsung.
2. Kritik sosial yang dilakukan secara terselubung dapat berupa tindakan-tindakan simbolis yang menyiratkan penilaian maupun kecaman terhadap keadaan sosial suatu masyarakat secara tidak langsung.

Bila dihubungkan dengan lagu “Bento”, menurut Aristoteles (328-322 SM), musik adalah sesuatu yang dapat dipakai untuk memulihkan keseimbangan jiwa yang sedang goyah, menghibur hati yang sedang goyah dan merangsang rasa patriotisme dan kepahlawanan. Seni musik adalah suatu tiruan seluk-beluk hati dengan menggunakan melodi dan irama. Fungsi musik adalah mengungkapkan ide-ide. Pemusik yang bisa mengungkapkan ide-ide biasanya adalah pemusik yang kritis. Lirik lagu merupakan ekspresi seseorang tentang suatu hal yang sudah dilihat, didengar ,maupun dialaminya. 

Lagu “Bento” karya Iwan Fals merupakan kritik sosial yang dilakukan secara terselubung dapat berupa tindakan-tindakan simbolis yang menyiratkan penilaian maupun kecaman terhadap keadaan sosial suatu masyarakat secara tidak langsung. Kritik ini ditujukan terhadap penguasa/ eksekutif pada masa Orde Baru. Di dalam karya ini juga berisikan kritik-kritik terhadap pejabat-pejabat yang menggunakan kedudukannya untuk memperkaya diri.

Bongkar: Nyanyian Murung Berbahaya
Majalah Rolling Stone Indonesia telah mengumumkan posisi teratas dari 150 Lagu Indonesia Terbaik Sepanjang Masa melalui edisi istimewa di seluruh penjuru negeri. Lagu nomor satu terbaik sepanjang masa versi Rolling Stone tersebut adalah “Bongkar” milik grup Swami yang diciptakan Iwan Fals bersama Sawung Jabo dan rilis pada tahun 1989. 

“Bongkar” yang kini sering didengungkan Iwan Fals di salah satu iklan kopi ini menduduki posisi puncak daftar lagu legendaris sepanjang masa setelah melalui proses pemilihan yang melibatkan 53 musisi, kritikus musik, jurnalis serta para pelaku industri musik nasional, di antaranya Yon Koeswoyo (Koes Bersaudara & Koes Plus), Addie MS, Dwiki Dharmawan, Log Zhelebour, Dewa Budjana, Armand Maulana, Remy Soetansyah, Theodore KS, Denny MR, Denny Sakrie, David Tarigan dan sebagainya. 

“Jika sebuah lagu dianggap mampu mewakili kenyataan sosial, jika kesenian dianggap mampu mengungkap sejarah hingga ke titik paling autentik, maka "Bongkar" adalah sebuah fakta tak terbantahkan,” tulis Denny MR, pengamat musik senior yang menulis resensi tentang lagu ini di edisi istimewa tersebut. 

“Kriteria yang kami sepakati bersama dari lagu-lagu yang terpilih ini adalah lagu tersebut harus diciptakan WNI, memberikan inspirasi, berasal dari wilayah musik populer, tergabung dalam album, kompilasi atau single yang dirilis, masuk di playlist radio nasional serta bukan karya yang menjiplak karya lagu lain,” tulis Adib Hidayat, managing editor Rolling Stone Indonesia.  Sebelumnya Majalah Rolling Stone Indonesia juga telah menerbitkan beberapa edisi istimewa yaitu, 150 Album Indonesia Terbaik Sepanjang Masa (2007) dan The Immortals: 25 Artis Indonesia Terbesar Sepanjang Masa (2008). 

Swami adalah grup yang digagas Iwan Fals pada tahun 1988 tak lama setelah rencana Tur 100 Kota album “Mata Dewa” dicabut izinnya oleh Mabes Polri tanpa alasan yang jelas. Pada zaman Orde Baru, konser-konser musik yang bernuansa protes atau kritik kepada pemerintah memang sangat dikekang. 

Selain Iwan Fals, Swami terdiri atas Sawung Jabo (gitar, vokal), Naniel (flute, perkusi), alm. Innisisri (drums), Nanoe (bass, vokal), Tatas (keyboards), dan Jerry (gitar). Sayangnya, usai rekaman Tatas dan Jerry mengundurkan diri hingga posisinya digantikan oleh kibordis Yockie Suryoprayogo dan gitaris Totok Tewel.

Panggung pertama Swami terjadi di sebuah acara ulang tahun sebuah kelompok pemanjat tebing dan hanya dibayar Rp 200 ribu saja. Sebelum akhirnya dibubarkan pada tahun 1992, Swami sempat merilis dua album (Swami I dan Swami II) yang melejitkan hits antara lain “Bongkar”, “Bento”, “HIO”, “Kuda Lumping.” 

Jika di tahun 2009 “Bongkar” terpilih sebagai lagu nomor satu sepanjang masa, maka 20 tahun sebelumnya, 1989, zaman dimana rezim Orde Baru Soeharto sedang ganas-ganasnya berkuasa, lagu ini sebenarnya nyaris tidak pernah terekam atau tercatat tinta emas sejarah musik tanah air. 

“Kami berusaha mencari produser yang mau merekam lagu-lagu yang sudah kami latih ini, tapi ternyata susah. Hampir semua produser yang kami datangi selalu menjawab, ‘Bagaimana caranya kami menjual lagu-lagu macam ini. Bikin saja yang biasa,’ kilah mereka umumnya. Lagu-lagu ini mereka rasakan terlalu keras, terutama liriknya. Pasti akan bermasalah bagi mereka kalau dikeluarkan,” tulis Naniel C. Yakin, salah seorang personel Swami sekaligus salah satu pencipta lagu “Bento” di rubrik Soundwaves pada edisi istimewa. 

Menurut Naniel, Iwan Fals menciptakan musik dan lirik bagi lagu ini. Hasilnya terjadi “kontroversi” di antara para personel Swami sendiri, khususnya di bagian lirik “Bongkar” yang dinilai terlalu keras untuk ukuran zaman represif saat itu. 

Versi awal lirik lagu “Bongkar” ternyata banyak mengutip nama-nama tempat pelanggaran HAM berat yang dilakukan tentara Soeharto, misalnya Kedung Ombo, Way Jepara, hingga Kaca Piring. Para personel Swami yang lain menilai jika lirik lagu ini tidak diubah maka akan menjadi masalah bagi rilisnya album ini nantinya. 

Iwan Fals bersikeras tak mau berkompromi untuk mengubah lirik lagu “Bongkar” karena menurutnya, musisi “bukan kambing yang hanya menurut dibawa ke kanan, menurut dibawa ke kiri.” 

Naniel menjawab, “Ya, tapi kita juga harus berstrategi, Wan. Bukan masalah takut dan berani. Kalau nggak boleh edar, buat apa kita mengerjakan rekaman ini?”

Akhirnya Iwan menyepakati Sawung Jabo untuk merevisi lirik lagu “Bongkar” hingga akhirnya seperti versi yang kita kenal sekarang ini. 

Hasilnya, lirik lagu “Bongkar” ternyata justru menjadi aktual sepanjang zaman dan bahkan ikut menjadi soundtrack perjuangan ketika gerakan demonstrasi mahasiswa sukses melengserkan rezim Orde Baru Soeharto di tahun 1998. Dan belakangan ketika Skandal Bank Century mencuat ke permukaan maka lagi-lagi soundtrack yang tepat untuk kasus ini adalah “Bongkar.” 

“Seperti halnya lagu-lagu lain di album perdana Swami, "Bongkar" adalah nyanyian murung berbahaya. Dengan tema protes keras yang menyambar ke sana kemari, personel Swami sepertinya telah siap untuk dihabisi pada saat mengayunkan langkah pertama.

Di dalam lirik lagu Bongkar, sudut pandang yang dipakai adalah sudut pandang kami (jamak), yang merupakan bagian dari kelas bawah. Lagu ini menunjukkan bagaimana kelas bawah memandang dirinya sendiri serta kelas atas, dalam hal ini penguasa. Kami menampilkan dirinya sebagai sebagai orang-orang yang marah karena merasa telah menjadi korban penindasan orang-orang yang berkuasa. 

Kalau cinta sudah di buang
Jangan harap keadilan akan datang
Sabar sabar sabar dan tunggu
Itu jawaban yang kami terima

Mereka terbiasa diperlakukan dengan tidak adil yang tercermin dari tidak adanya harapan bahwa keadilan akan datang. Mereka juga terbiasa ditelantarkan dan tidak dilayani sebagaimana tampak dari jawaban yang mereka terima (sabar sabar sabar dan tunggu) dari orang-orang yang seharusnya memberikan layanan publik

Hoi hentikan hentikan jangan diteruskan
Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan

Lirik ini dengan gamblang memperlihatkan kemuakan dan kemarahan mereka akan ketidakpastian dan keserakahan, yang mengacu pada penguasa yang tidak adil dan tidak kompeten dalam menjalankan tugas mereka.

Kelas penguasa di dalam lirik lagu “Bongkar” dapat dikategorikan ke dalam kelas atas karena mereka memiliki posisi yang tinggi dalam masyarakat. Mereka memiliki kekuasaan untuk mengatur dan mengelola masyarakat. Kelas atas, dalam hal ini penguasa, diperlihatkan telah kehilangan cinta yang dapat dibaca sebagai telah kehilangan hati nurani yang membuat mereka mampu bertindak sewenang-wenang.

Penindasan serta kesewenang wenangan
Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan…
Kesedihan hanya tontonan
Bagi mereka yang diperkuda jabatan

Pemakaian ungkapan “diperkuda jabatan” mengacu pada penguasa yang telah dikuasai oleh jabatan mereka sehingga kehilangan hati nurani. Akibatnya, mereka melihat kesedihan orang lain hanya sebagai tontonan dan tidak tergerak untuk berbuat sesuatu untuk memperbaiki keadaan. Mereka ini adalah orang orang yang terobsesi dengan kedudukan mereka sehingga kehilangan kemanusiaan mereka.

Jika representasi kelas bawah dan atas diperbandingkan, tampak ada perbedaan kelas antara yang kaya dan yang miskin, antara yang berkuasa dan yang tertindas. Dalam beberapa lirik lagu, perbedaan tersebut mengarah pada pertentangan kelas. Yang paling menonjol terlihat di dalam lirik lagu “Bongkar”. Di dalam lirik lagu ini jalan keluar yang dipilih kelas bawah untuk menyampaikan aspirasi mereka adalah dengan turun ke jalan atau melakukan demonstrasi.

Sabar sabar sabar dan tunggu
Itu jawaban yang kami terima
Ternyata kita harus ke jalan
Robohkan setan yang berdiri mengangkang

Penguasa direpresentasikan sebagai “setan yang berdiri mengangkang” yang dapat diartikan sebagai kekuatan jahat yang menunjukkan kekuasaannya dengan menghalangi tercapainya tujuan demonstrasi. Pertentangan dipertajam dengan refrain lagu yang mengulang-ulang kata “bongkar”. 

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

Dalam “Bongkar”, kaum yang tertindas pada awalnya diperlihatkan memiliki keberanian menyuarakan keinginannya untuk mengubah keadaan. Akan tetapi, menjelang akhir lirik, pertentangan kelas yang dilakukan di jalan itu ditarik ke dalam rumah, yaitu pada kehidupan rumah yang tidak harmonis. Rumah dalam lirik ini merupakan analogi sebagai keadaan negara atau pemerintahan yang diacu di bagian awal lirik. Jika pemerintahan dianalogikan sebagai rumah, dalam rumah ada orang tua yang juga dapat dianalogikan sebagai pemimpin atau pemerintahan.

Di jalanan kami sandarkan cita cita
Sebab di rumah tak ada lagi yang bisa dipercaya
Orang tua pandanglah kami sebagai manusia
Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta

Karena pemerintah dianalogikan sebagai keluarga, seolah-olah menjadi sebuah kemustahilan untuk melakukan perlawanan. Melalui analogi semacam itu, pertentangan kelas pun tidak terlihat frontal. Seperti halnya dalam keluarga, harmoni tetap dijaga, meskipun terjadi perselisihan-perselisihan dalam keluarga. Kata cinta dan keinginan diperlakukan manusiawi yang muncul pada lirik puisi, mengurangi tegangan emosi yang terdapat pada larik-larik sebelumnya sehingga perlawanan menjadi lebih halus.

Dehumanisasi juga muncul di dalam lirik lagu “Bongkar”. Di sini penguasa “diperkuda oleh jabatan” yang berarti bahwa penguasa dikuasai oleh obsesi mereka akan jabatan. Obsesi pada jabatan ini membuat mereka kehilangan hati nurani (cinta) yang mengakibatkan mereka tidak dapat memerintah dengan adil dan bahkan menjadi kebal dengan kesedihan orang lain (kesedihan hanya tontonan).

Kalau cinta sudah di buang
Jangan harap keadilan akan datang
Kesedihan hanya tontonan
Bagi mereka yang diperkuda jabatan

Penguasa di dalam lagu ini ditampilkan serupa dengan Bento yang tidak pernah memikirkan penderitaan yang ditimbulkannya akibat ulahnya menjagal bisnis orang lain. Keduanya sama-sama mementingkan diri sendiri dan tidak memiliki hati nurani dan rasa keadilan. Jika melihat bahwa lirik lagu ini mengetengahkan bahwa dehumanisasi terjadi pada kedua kelas yang tampaknya saling berseberangan dan berlawanan, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya kedua kelas masyarakat ini memiliki sifat yang serupa. Kedua kelas tersebut dikuasai oleh obsesi mereka sehingga berfokus pada diri sendiri dan tidak peduli pada orang lain.

Penutup
Kritik sosial yang diangkat dalam kedua lirik lagu "Swami I" disampaikan melalui nada satiris dan ironis. Lagu “Bento” dan “Bongkar” menjadi kritik sosial yang muncul dengan tegas, meski tidak subversif. Dalam kedua lirik lagu tersebut, kritik ditujukan pada kalangan atas yang memiliki kekuasaan yang cenderung menyalahgunakan kekayaan dan kekuasaannya untuk menindas dan memarjinalkan yang lain.

Di balik sosok Bento yang tampan, berkelas dan berkuasa, ia ternyata memiliki sifat seperti “preman” yang “mengancam”, dan “menjagal” tanpa hati nurani. Ironi penguasa sebagai “pengkhotbah moral” dan “guru” yang dipertentangkan dengan aksi “menipu”, dan “mencuri,” menimbulkan kesan sindiran yang tajam pada kelompok penguasa. Pengulangan kata asyik menguatkan kesan bahwa kalangan ini menikmati penindasan yang mereka lakukan terhadap rakyat kecil.

Lirik lagu "Bongkar" diawali dengan kritik yang cukup tajam karena adanya kesadaran dari kelas bawah untuk membongkar kekuasaan. Kesan sarkastis muncul pada kata-kata “setan yang berdiri mengangkang” ingin dirobohkan. Istilah tersebut ditujukan pada kekuasaan yang menindas. Kata “bongkar” dapat dimaknai sebagai sebuah kritik terhadap penguasa saat terjadi penggusuran-penggusuran yang semakin memarjinalkan kelompok miskin dan tidak berdaya.

Kata “bongkar” menjadi “teriakan” penguasa yang tidak peduli pada nasib rakyat kecil, atau dapat pula dimaknai kekuatan kelas bawah yang bisa memiliki “kekuatan” atau “kekuasaan” melakukan perlawanan dan melakukan cara-cara “preman” atau “tidak humanis”, seperti yang dilakukan oleh para penguasa. Akan tetapi di akhir lirik, pemilihan kata “orang tua” sebagai analogi penguasa menyiratkan bahwa yang dilawan adalah orang tua sendiri sehingga perlawanan tidak mungkin dilakukan secara frontal.

Vokalisasi yang bisa saja berubah tempat, antara posisi penindas (Bento) dan yang ditindas (Bongkar), mengurangi ketajaman kritik sehingga menjadi sebuah lirik yang lebih terkesan menghibur daripada menyudutkan pihak tertentu. Mungkin hal tersebut merupakan alasan album SWAMI I dapat diterima masyarakat dan juga pemerintah yang berkuasa pada masa itu.

Representasi kelas sosial dan pertentangannya diungkapkan melalui pengontrasan. Kelas bawah direpresentasikan sebagai rakyat kecil, yang kondisi kehidupannya sangat kontras berbeda dengan kalangan yang menikmati kue pembangunan. Dua kelas ini merupakan pencerminan kondisi sosial di era Orde Baru, di mana pertumbuhan ekonomi cukup baik, tetapi terdapat kesenjangan sosial yang lebar, antara kelompok yang sukses dan kelompok masyarakat yang terpuruk atau tertinggal dalam pembangunan.

Kelas atas ditampilkan sebagai orang-orang yang menikmati kue pembangunan, punya banyak uang, punya harta dan rumah mewah, punya jabatan tinggi, berkuasa, bisa berbuat semaunya, hidup enak dan nyaman. Mereka asyik dengan kenikmatan hidupnya sendiri, dan tidak perduli dengan hidup orang lain yang ditindas atau menjadi korban aksi manipulasinya.

Pertentangan kedua kelas tersebut diungkapkan dengan mengontraskan kondisi sosial, harapan dan kenyataan antara kedua kelas tersebut. Kesenjangan sosial antara kedua kelas itu tak terjembatani karena tidak ada cara yang dapat ditempuh oleh kelompok masyarakat miskin untuk dapat meningkatkan status sosial mereka.

Kedua lirik lagu SWAMI I memperlihatkan adanya pertentangan kelas dengan nuansa yang berbeda-beda. Pertentangan kelas yang tercermin di dalam kedua lagu ini berbeda dari pengertian Marxis karena tidak bersifat revolusioner model Eropa. Walaupun terdapat nada ketidakpuasan dan keinginan untuk memberontak, kelas bawah dalam lirik lagu tetap menganggap penguasa sebagai orang tua dan tetap mencintai negara dan bangsanya.

Ajakan untuk membongkar tidak ditujukan secara langsung kepada penguasa, tetapi pada penindasan dan kesewenang-wenangan, ketidakpastian dan keserakahan. Tidak ada nama atau figur spesifik nyata yang disebut dalam keempat lirik lagu.

Jadi ajakan untuk membongkar adalah membongkar sistem nilai yang dirasakan tidak adil, bukan membongkar atau merobohkan kekuasaan. Meskipun muara sistem nilai itu pada akhirnya berada pada penguasa dan pemilik kapital besar. Kemungkinan hal ini disebabkan oleh kehadiran Setiawan Djodi sebagai penyandang dana dalam grup Swami.

Daftar Pustaka
Adian, Donny Gahral. 2006. Percik pemikiran kontemporer: sebuah pengantar komprehensif. Yogyakarta: Jalasutra.
Boangmanalau, Singkop Boas. 2008. Marx, Dostoievsky, Nietzsche: menggugat teodisi dan merekonstruksi antropodisi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Budianta, Melani. 2000. “Discourse of cultural identity in Indonesia during the 1997-1998 monetary crisis,” Inter-Asia Cultural Studies, vol. 1 no. 1, hlm. 110-127.
Christomy, T., dan Untung Yuwono (ed.). 2004. Semiotika budaya. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Budaya, Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat UI.
Hoed, Benny H. 2008. Semiotika dan dinamika. Jakarta: Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.
Storey, John. 2006. Cultural theory and popular culture: an introduction. Fourth Edition. Athens, Georgia: The University of Georgia Press.
Tabloid Bintang No 293/Th. VI, Minggu Kedua, Oktober 1996.
Winters, Jeffrey A. 1999. Dosa-dosa politik Orde Baru. Jakarta: Penerbit Djambatan.


 Sampul Album Swami I


Lirik Lagu Bento
(Iwan Fals/ Naniel ) –SWAMI

Namaku Bento rumah real estate
Mobilku banyak harta berlimpah
Orang memanggilku bos eksekutif
Tokoh papan atas atas sgalanya.
Asyik...

Wajahku ganteng banyak simpanan
Sekali lirik oke sajalah
Bisnisku menjagal, jagal apa saja
Yang penting aku senang aku menang
Persetan orang susah karena aku
Yang penting asyik
Sekali lagi asyik...

Reff:
Khotbah soal moral omong keadilan
sarapan pagiku
Aksi tipu-tipu lobbying dan upeti
woh... jagonya...

Maling kelas teri bandit kelas coro,
itu kan tong sampah
Siapa yang mau berguru, datang padaku
Sebut tiga kali namaku:
Bento... Bento... Bento...
Asyik... Asyik!!


Lirik Lagu Bongkar
(Iwan Fals/ Sawung Jabo) –SWAMI

Kalau cinta sudah di buang
Jangan harap keadilan akan datang
Kesedihan hanya tontonan
Bagi mereka yang diperkuda jabatan

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

Sabar sabar sabar dan tunggu
Itu jawaban yang kami terima
Ternyata kita harus ke jalan
Robohkan setan yang berdiri mengangkang

Oh oh ya oh ya oh ya bongkar
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar
Oh oh ya oh ya oh ya bongkar

Penindasan serta kesewenang-wenangan
Banyak lagi teramat banyak untuk disebutkan
Hoi hentikan hentikan jangan diteruskan
Kami muak dengan ketidakpastian dan keserakahan

Di jalanan kami sandarkan cita cita
Sebab di rumah tak ada lagi yang bisa dipercaya
Orang tua pandanglah kami sebagai manusia
Kami bertanya tolong kau jawab dengan cinta

Selasa, 22 Oktober 2013

Pendekatan dan Metode Pengajaran Bahasa sebagai Dasar Pengembangan Kurikulum

A.    Pengantar
Sampai tahun 1950-an pendekatan rancangan silabus yang diuraikan dalam bab I sebagian besar sudah cukup untuk mendukung pengajaran bahasa. Fokus pengajaran bahasa Inggris umumnya dalam kesulitan linguistik yaitu pada penggunaan tingkat kosakata. Bahasa Inggris diajarkan hanya pada struktur dan kosakata. Darian (1972, 94) mengomentari materi yang berpengaruh di Michigan yang diproduksi oleh Universitas Michigan, mengeluhkan:

Ada cara “contextual material”, yaitu memilih kalimat untuk latihan. Kalimat yang dipilih adalah kalimat yang sempurna, sedangkan ungkapan yang wajar, tetapi jarang ada kaitan dengan yang lain.

Zaman sekarang banyak pendekatan pengajaran bahasa yang disediakan, seperti pengadaan buku bahasa Inggris untuk perjalan dan perdagangan yang membicarakan beberapa topik, situasi, dan kalimat yang baik dan memfokuskan pada teknik berbahasa Inggris untuk pekerjaan. Tetapi akhirnya, tipe buku atau kursus bahasa yang secara kebetulan menjadi trend di pengajaran bahasa Inggris juga mengajarkan bahasa Inggris secara umum, atau kadang-kadang mengarah ke lain hal. Bahasa Inggris bukan hanya untuk tujuan khusus.

Guru dan peserta didik merupakan komponen utama dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran, guru bertanggung jawab mengatur dan mengelola lingkungan sekolah dan pencapaian tujuan pendidikan sesuai arah yang diinginkan. Guru harus mampu mengelola seluruh proses kegiatan pembelajaran dengan menciptakan kondisi-kondisi belajar sedemikian rupa sehingga setiap peserta didik dapat belajar secara efektif dan efisien (Slameto, 2003: 98). Dalam menciptakan kondisi belajar yang kondusif tidak terlepas dari kemampuan guru dalam memilih pendekatan ataupun metode pembelajaran yang tepat yang sehingga dapat mengarahkan pembelajar pada tujuan yang telah ditetapkan.

Dalam bidang pengajaran, metode adalah rencana penyajian bahan secara menyeluruh dengan urutan yang sistematis berdasarkan pendekatan tertentu. Pendekatan adalah seperangkat asumsi korelatif yang menangani hakikat pengajaran dan pembelajaran bahasa. Metode merupakan rencana keseluruhan bagi penyajian bahan bahasa secara rapi dan tertib, bagian-bagiannya tidak ada yang berkontradiksi, dan kesemuanya itu didasarkan pada pendekatan terpilih.

B.    Pencarian Metode Baru
Pengajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing menjadi semakin berkembang setelah Perang Dunia ke II. Para imigran, pengungsi, dan mahasiswa asing yang membutuhkan kursus bahasa Inggris semakin meningkat di Inggris, Kanada, Amerika, dan Australia. Peran bahasa Inggris sebagai bahasa komunikasi internasional telah meluas secara cepat pada tahun 1950-an. Banyak mobilitas yang jauh lebih besar dari masyarakat sebagai akibat dari pertumbuhan perjalanan udara dan turis internasional. Pertumbuhan cepat bahasa Inggris sangat penting di dunia perdagangan internasional. Peran bahasa Inggris didukung oleh pertumbuhan radio, film, dan televisi. White (1988: 9) berkomentar:

Pada zaman pertengahan, bahasa Inggris adalah bahasa yang digunakan di daerah-daerah tertentu, sementara bahasa Prancis adalah bahasa negara. Pada abad keduapuluh, bahasa Inggris menjadi bahasa dunia berkat warisan linguistik dari Kerajaan Inggris, munculnya USA sebagai kekuatan terbesar English-Speaking, serta secara kebetulan berkembang pula industri dan teknologi di abad 19 dan 20.

Semua perkembangan ini mendukung perlunya pembelajaran praktis bahasa Inggris bagi orang-orang di berbagai belahan dunia. Penguasaan bahasa secara akademis mungkin bisa didapat salah satunya dalam kursus-kursus tertentu.

Respon awal dari profesi pengajaran bahasa Inggris adalah untuk mengeksplorasi arah baru dalam metodologi. Ini diasumsikan bahwa dalam rangka memenuhi perubahan kebutuhan pelajar bahasa, metode pengajaran yang lebih modern yang diperlukan adalah metode pengajaran yang mencerminkan pemahaman terbaru dari sifat bahasa dan pembelajaran bahasa. Linguistik adalah sumber teori tentang organisasi dan struktur bahasa yang diterapkan dalam penyebab baru "berbasis ilmiah" dalam metode pengajaran. Dalam makalah ini akan dijelaskan mengenai beberapa topik di antaranya adalah pendekatan struktural, pendekatan audiolingual, pergantian kebutuhan bagi bahasa asing di Eropa, English for specific purposes, pendekatan komunikatif, dan  munculnya pendekatan kurikulum dalam pengajaran bahasa.

C.    Pendekatan Struktural
Tahun 1950-an dan 1960-an pengajaran bahasa mulai mengembangkan adanya metode. Di Kerajaan Inggris Raya, para linguis mengembangkan metodologi di abad 20-an dan 30-an yang menghubungkan secara hati-hati tingkatan tata bahasa dan leksikal syllabus. Pendekatan itu memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
  • Silabus yang terstruktur dengan tingkatan level kosakata.
  • Presentasi yang bermakna dengan struktur situasi untuk konteks pengajaran baru.
  • Aktivitas kegiatan kelas dengan metode PPP (Presentasi–Praktik– Produksi).
Pengajaran bahasa situasional, yaitu bahasa diajarkan dengan mempraktikkan atau melatih struktur-struktur dasar dalam kegiatan-kegiatan berdasarkan situasi yang bermakna. Titik pembelajarannya pada penguasaan bahasa lisan. Sebelum pembelajaran, diteliti terlebih dahulu persamaan dan perbedaan bahasa ibu dengan bahasa yang akan diajarkan, terutama persamaan dan perbedaan mengenai; bunyi-bunyi bahasa, perbendaharaan kata-kata, serta struktur kata dan kalimat.

Metode ini dikenal sebagai Pendekatan Situasi atau Pendekatan Struktural-Situasi atau Pendekatan Situasi Mengajar Bahasa. Metode ini kemudian menjadi metode paling mutakhir di lingkungan bahasa Inggris British sejak tahun 1950-an. Buku-buku kursus yang terkenal dengan metode ini adalah seri Robert O’Neill’s Kernal (Longman, 1978). Di negara-negara kolonial, seperti Singapura, administrasi “Kurikulum Bahasa Inggris di sekolah-sekolah menengah pada awal tahun 1950-an diikuti tradisi pengajaran bahasa Inggris di sekolah–sekolah Inggris, dengan fokus studi bahasa dan sastra” (Ho, 1994: 222). Diaplikasikan juga oleh negara koloni yang lain seperti Malaysia, India, dan Hongkong.

Tidak ada ketentuan untuk pekerjaan dan tata bahasa yang dirancang khusus untuk membantu para pelajar. Bahasa Inggris diajarkan di sekolah-sekolah sebagai subjek diskrit dan bertujuan untuk menyiapkan pengetahuan membaca bahasa Inggris siswa melalui studi tata bahasa Inggris dan teks yang dipilih serta menerapkan prinsip-prinsip tata bahasa seperti kosakata. Untuk pemahaman teks-teks tersebut diperlukan bantuan sebuah kamus dwibahasa (Ho, 1994: 222-226).

Kemudian metode ini digantikan oleh sebuah TESL (Teaching English as a Second Language) atau TEFL (Teaching English as a Foreign Language), yaitu pendekatan yang didasari pada silabus struktural dan situasi latihan berbasis metodologi. Pendekatan struktural silabus juga dipakai di Australia sebagai basis untuk mengajar program bahasa Inggris untuk para imigran sejak tahun 1950-an (Ozolins 1993).

D.    Metode Audiolingual
Audiolingual method atau metode audiolingual ini seringkali dinamakan Aural-Oral Approach atau Pendekatan Dengar-Ucap (Djunaidi, 1988: 40). Adapula yang menamakannya Mimicry-Memorization Method atau Metode Meniru-Menghapal. Kadang metode ini juga dikenal sebagai Informant-Drill Method. Metode ini mulai dikenal pada saat Amerika Serikat memasuki Perang Dunia II. Untuk melatih personilnya agar dapat menguasai bermacam-macam bahasa asing secara aktif dalam waktu yang singkat, angkatan darat Amerika Serikat dengan bantuan universitas menyelenggarakan program pengajaran bahasa asing di bawah program latihan khusus angkatan darat.

Pelajaran bahasa asing diberikan dengan sangat intensif dan menggunakan pendekatan aural-oral atau listening-speaking. Karena penyelenggara program sekolah bahasa ini adalah angkatan darat maka tidak mengherankan kalau metode yang digunakannya sering didengar dengan Army Method atau Metode Tentara. Hasil yang dicapai sangat mengesankan sehingga setelah perang berakhir banyak sekolah bahasa atau lembaga bahasa didirikan atas dasar sistem dan metode tersebut, baik di Amerika Serikat atau di negara-negara lain. 

Teori bahasa yang mendasari Aural-Oral Approach adalah teori linguistik struktural. Menurut teori ini bahasa adalah speech atau ujaran dan tulisan merupakan alata perekam bahasa. Ujaran terdiri atas pola-pola kalimat dasar atau struktur bahasa. Bahasa diajarkan melalui latihan-latihan lisan yang intensif dan sistematis dari pola-pola kalimat dasar. Tata urutan bahasa yaitu aural (listening) atau mendengarkan, kemudian oral (speaking) atau berbicara, selanjutnya reading atau membaca, dan writing atau menulis. 

Para penganut teori ini menganggap bahwa bahasa merupakan manifestasi dari tingkah laku manusia yang telah menjadi kebiasaan dan belajar bahasa asing pada hakikatnya adalah pembentukan kebiasaan-kebiasaan baru. Kebiasaan yang baik dibentuk dengan cara memberikan respon atau tanggapan yang benar dan bukannya pembuatan kesalahan. Kesalahan dapat dikurangi dengan latihan penggunaan pola-pola kalimat yang benar. Keterampilan berbahasa akan dipelajari dengan lebih efektif kalau penyajian lisan mendahului menyajian tulisan. Selanjutnya, analogi memberikan dasar yang lebih baik untuk belajar bahasa daripada analisis. Penjelasan tentang kaidah bahasa tidak diberikan sampai pelajar mendapat cukup latihan untuk dapat menarik kesimpulan secara analogis. Drills atau latihan-latihan memungkinkan pelajar menarik analogi yang benar. Karena itu pengajaran tata bahasa lebih bersifat induktif daripada deduktif.

Tujuan pengajaran bahasa pada tahap awal dipusatkan pada keterampilan mendengarkan dan berbicara. Secara bertahap keterampilan membaca diberikan berdasarkan apa yang telah dikuasi secara lisan dan keterampilan menulis diajarkan berdasarkan apa yang telah dibicarakan dan dibaca. Silabus metode audiolingual adalah silabus linguistik yang berisi pokok-pokok bahasan tentang fonologi, morfologi, dan sintaksis bahasa tersebut yang diatur berdasarkan urutan penyajiannya. Tata urutan pengajaran pola kalimat biasanya didasarkan pada prinsip bahwa pola kalimat sederhana diajarkan terlebih dahulu dari pola kalimat yang lebih kompleks.

Kegiatan belajar-mengajar di kelas sebagian besar terdiri dari dialog dan drill atau latihan-latihan. Dialog digunakan untuk memberikan konteks pola kalimat dan menggambarkan situasi penggunaannya dan mungkin juga aspek kebudayaan dari bahasa tersebut. Latihan yang digunakan ada beberapa macam, yaitu; pengulangan, perubahan bentuk kata yang diulang, penyempurnaan kalimat yang diberikan, perubahan kalimat, dan penggabungan dua kalimat menjadi satu. Metode audiolingual adalah metode yang berpusat pada guru, sedangkan teknik pengajarannya dipusatkan pada ketepataan ujaran. Penjelasan tentang kaidah bahasa diberi porsi sedikit. Bahasa asing yang diajarkan dipergunakan sebagai bahasa pengantar pelajaran.

Di Amerika pada tahun 1960-an, pengajaran bahasa juga di bawah kekuasaan kekuatan Metode Audiolingual. Stern (1974: 63), menjelaskan periode dari tahun 1958 s/d 1964 sebagai “Zaman keemasan aliran audiolingual.” Ini menarik pada karya linguistik struktural Amerika, yang menetukan dasar untuk silabus tata bahasa dan pendekatan pengajaran bahwa tarikan itu lebih ringan di teori aliran Behavioris. Belajar bahasa sudah dipelajari tergantung kelakuan yang dapat dibuktikan dengan cara pengulangan. Linguis Bloomfield (1942:12) menyatakan sebuah prinsip yang menjadi prinsip inti dari audiolingualism: teknik pengajaran yang memanfaatkan pengulangan dialog dan praktik sebagai dasar, untuk otomatisasi diikuti oleh latihan-latihan yang melibatkan pola belajar menransfer ke situasi baru. Rivers (1964) sebelumnya berasumsi tentang audiolingualism sebagai berikut.
  • Kebiasaan diperkuat oleh penguatan.
  • Kebiasaan bahasa asing dibentuk lebih efektif dengan memberikan jawaban yang benar, bukan membuat kesalahan.
  • Bahasa adalah perilaku dan perilaku dapat dipelajari hanya dengan mendorong pelajar untuk berperilaku.
Seri bahasa Inggris Lado (Lado, 1978) adalah didasari pendekatan ini. Metode yang serupa telah dikembangkan di Eropa dan dikenal menjadi metode Audiovisual Disebut metode Audiovisual karena menggunakan visual yang berarti menyajikan dan melatih jenis-jenis bahasa baru.

Daya tarik dengan metode dan pencarian metode yang terbaik menjadi sebuah keasyikan pengajaran bahasa untuk 20 tahun ke depan. Lange mengobservasi (1990: 253) mengungkapkan pernyataan sebagai berikut.

Pengajaran bahasa asing … memiliki orientasi dasar untuk metode mengajar. Sayangnya, “metodologi” baru ini menjadi menonjol tanpa banyak dikaji. Keprihatinan pada metode ini tentunya bukan karena ia adalah metode baru. Daya tarik metode ini berawal dari akhir 1950-an, ketika guru bahasa asing amatir dituntun untuk percaya bahwa ada metode untuk memperbaiki "masalah belajar-mengajar bahasa".

E.    Pergantian Kebutuhan bagi Bahasa Asing di Eropa
Unsur yang hilang dalam untuk metode baru adalah sejauh mana pertimbangan metode pengajaran diperuntukkan bagi kebutuhan pelajar. Jupp dan Hodlin mengangkat masalah ini  tahun 1975.

Peningkatan pengajaran bahasa Inggris (sejak pertengahan 1950-an) disertai pengenalan metode dan materi baru di kelas, terutama sekali sejak 1960-an. Perubahan ini sangat radikal dan dapat disebut pengajaran revolusi. Tapi revolusi ini sudah diikuti dengan situasi atau motivasi pelajar; mengenai bagaimana orang belajar dan apa bahasa itu… mempertimbangkan kenapa orang belajar bahasa kedua atau evaluasi hasil yang lebih ataupun kurang.

Tahun 1969, Konsul Eropa (daerah organisasi negara-negara Eropa memperkenalkan kebudayaan dan pendidikan), yang memperkenalkan pembelajaran bahasa asing yang lebih efektif, memutuskan bahwa:
  • pemahaman penuh akan tercapai antara negara-negara Eropa, jika rintangan bahasa antara mereka dapat dihapus,
  • perbedaan linguistik adalah bagian warisan kebudayaan dan itu harus melewati pelajaran bahasa modern, menambah sumber kekayaan intelektual daripada rintangan kesatuan,
  • hal di atas dapat terpenuhi jika studi mengenai bakan bahasa Eropa modern menjadi pengertian umum di Eropa. (Concil of Europe, 1969: 8).
Agar mendapat tanggapan, pertimbangan ini dapat didasari pada informasi sosial. Van Els, T. Bongaerts, G. Extra, C. Van Os, dan A. Janssen-van Dieten (1984, 159) mengajukan beberapa pertanyaan untuk mempertimbangkan waktu:
  • Apakah mempertimbangkan kepentingan semua anggota komunitas yang tahu bahasa asing ataukah hanya untuk tujuan profesional?
  • Berapa banyak bahasa, dan bahasa apa saja, yang dipelajari/ dibutuhkan?
  • Bagaimana permintaan untuk masing-masing bahasa? Apakah setiap orang membutuhkan keahlian yang sama, atau keahlian tingkat yang sama?
  • Apakah membutuhkan kestabilan pola?

F.    English for Specific Purposes
Berfokus untuk membuat kursus bahasa lebih relevan membutuhkan beberapa periode menjadi Languages for Specific Purposes (LSP), yang sekarang dikenal sebagai English for Specific Purposes (ESP). ESP berfokus pada berikut ini.
  • Kebutuhan dalam menyiapkan pertumbuhan jumlah mahasiswa berlatar belakang nonbahasa Inggris untuk belajar di kampus Amerika dan Inggris dari tahun 1950-an.
  • Kebutuhan dalam menyiapkan materi-materi untuk mengajarkan mahasiswa yang secara umum sudah mahir berbahasa Inggris, namun membutuhkan bahasa Inggris untuk dipakai dalam kepegawaian. Misalnya, mahasiswa yang bukan berlatar belakang bahasa Inggris dokter, namun sedang belajar/ bekerja di negara yang berbahasa Inggris sebagai perawat, Insinyur, atau peneliti.
  • Kebutuhan materi untuk orang yang membutuhkan bahasa Inggris dengan tujuan bisnis.
  • Kebutuhan untuk mengajarkan bahasa yang dibutuhkan untuk urasan pekerjaan pada para imingran.
Martin (1976, mengutip melalui Jordan, 1997: 53) mendeskripsikan daftar kosakata akademi ke dalam 3 kategori:
  1. Proses penelitian: kosakata pertama adalah kata kerja dan kata benda dan menyajikan di konteks yang mendiskusikan 5 langkah penelitian: bentuk, investigasi, menganalisis, menggambarkan kesimpulan, dan melaporkan hasil.
  2. Kosakata analisis: termasuk didalamnya frekuensi dan dua kata akta kerja dibutuhkan agar menyajikan informasi yang rapi. Contohnya, terdiri atas, hasil dari kelompok, menyimpulkan, dasar, dicatat untuk.
  3. Kosakata evaluasi: termasuk di dalamnya kata sifat dan kata keterangan yang ditinjau kembali, kritik, dan beberapa laporan.

Identifikasi pola sebuah teks organisasi fokus pada pendekatan ini. Hoey (1979, 1983) menguraikan, sebagai berikut.
1.    Pembukaan
a)    Menarik pemembaca langsung ke subjek atau masalah.
b)    Menjelaskan mengapa Anda menulis.
c)    Buktikanlah kepada pembaca dengan menunjukkan keyakinan, sikap, dan pengalaman.
2.    Latar belakang
a)    Jelaskan masalah alaminya, sejarah, dan penyebab.
b)    Jelaskan revelansi masalah pembaca,
keinginan dan alasan ketertarikan pada masalah penting kepada pembaca.
3.    Argumentasi
a)    Menyatakan premis mayor.
Termasuk di dalam informasi penting untuk membuat jelas dan dapat diterima.
b)    Menyatakan premis minor, dan termasuk di dalam informasi.
c)    Menyatakan kesimpulan.
d)    Tunjukkan posisi Anda lebih baik.
4.    Kesimpulan
a)    Jelaskan implikasi argumen Anda.
b)    Ringkaskan argument Anda: masalah, kesimpualn dan alasan-alasan untuk diterimanya.

G.    Communicative Language Teaching (CTL)
Communicative Language Teaching adalah pengajaran bahasa secara komunikatif (Djunaidi, 1988: 44).  Menurut pendekatan komunikatif ini tujuan pengajaran bahasa ialah untuk mengembangkan kemampuan komunikatif serta prosedur pengajaran keempat keterampilan berbahasa (mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis) yang mengakui interdependensi atau saling ketergantungan antara bahasa dan komunikatif. 

Pengajaran bahasa komunikatif  merupakan pendekatan yang luas untuk pengajaran bahasa. Pendekatan komunikatif difokuskan pada komunikasi sebagai prinsip organisasi pada pengajaran, serta difokus pada sistem ketatabahasaan pada bahasa. Pada tahun 1970-an merupakan periode ketika orang-orang menjadi lebih komunikatif.

Pada poin ini, hal yang terpenting adalah untuk menciptakan sebuah perubahan dalam pengajaran bahasa berdasarkan kebutuhan sosial dan kebutuhan pembelajar sebagai sebuah titik awal pada praevaluasi pengajaran bahasa. Ketika satu kebutuhan telah teridentifikasi, target pengajaran akan dapat diidentifikasikan.

Belajar bahasa pada hakikatnya adalah belajar komunikasi. Oleh karena itu, pembelajaran bahasa diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pembelajar dalam berkomunikasi, baik lisan maupun tulis. Hal ini relevan bahwa kompetensi pembelajar bahasa diarahkan ke dalam empat subaspek, yaitu menyimak, membaca, berbicara, serta menulis. 

Pendekatan komunikatif memandang bahwa bahasa adalah sarana berkomunikasi. Adapun tujuan dari pendekatan ini adalah agar para pembelajar terampil berbahasa, dapat berkomunikasi dengan baik dalam bahasa sasaran. Munculnya pendekatan komunikatif disebabkan adanya ketidakpuasan dari para praktisi dan ahli terhadap pendekatan audiolingual, dikarenakan para pelajar setelah belajar beberapa tahun, tetap belum lancar berkomunikasi dalam bahasa target.

Pendekatan komunikatif adalah istilah yang umum tentang pendekatan yang bertujuan untuk melatih kompetensi komunikatif. Kompetensi komunikatif  yaitu kemampuan untuk berkomunikasi dengan tepat secara sosial tidak hanya membuat kalimat-kalimat yang benar secara gramatikal. Pendekatan komunikatif dimaksudkan agar para pembelajar pada akhirnya dapat menguasai seluruh komunikasi tanpa menganalisis bahasa menjadi satuan-satuan gramatikal atau unsur-unsur kebahasaan seperti pola kalimat, kosakata, dan sebagainya. Maka dari itu, dalam proses pengajarannya pun para peserta didik lebih banyak diberi pengayaan dalam pengalaman-pengalaman berkomunikasi. 

Pendekatan  pengajaran ini berusaha agar kejadian real di masyarakat dapat masuk ke dalam kelas (Yusman, 2010).  Dengan demikian  peserta didik dapat melihat dan mempraktikkan situasi real yang dimaksudkan. Contoh, dalam kelas bahasa, percakapan untuk membeli baju di sebuah toko menjadi sebuah kenyataan.  Artinya kelas tersebut sejauh mungkin dapat diubah seakan-akan menjadi toko mini, di mana peserta didik dapat melihat baju dan bertemu dengan seorang pedagang.

Pendekatan komunikatif berdasarkan pada teori bahasa yang menyatakan bahwa pada hakikatnya bahasa itu merupakan suatu sistem untuk mengekspresikan makna. Teori ini lebih memberi tekanan pada dimensi  semantik dan komunikatif dibandingkan pada ciri-ciri gramatikal bahasa. Oleh karena itu, dalam pembelajaran bahasa yang berdasarkan pada pendekatan komunikatif, menekankan pembelajar pada belajar berkomunikasi bukan menekankan pada pengetahuan tentang bahasa.

Kegiatan belajar dikembangkan dengan  mengarahkan pembelajar ke dalam komunikasi nyata. Pembelajar dituntut pula untuk menggunakan bahasa yang dipelajarinya. Teori belajar yang cocok untuk pendekatan ini adalah pemerolehan bahasa kedua secara alamiah. Teori ini beranggapan bahwa proses belajar bahasa lebih efektif apabila bahasa diajarkan secara informal melalui komunikasi langsung di dalam bahasa yang sedang dipelajari.

Perbedaan pokok antara metode audiolingual dan pendekatan komunikatif (Djunaidi, 1988: 44).
  • Metode audiolingual lebih menekankan struktur dan bentuk dari pada makna, sedangkan pendekatan komunikatif lebih menekankan makna dan fungsi daripada bentuk dan struktur.
  • Menurut metode audiolingual belajar bahasa bertujuan untuk menguasai sistem tata bunyi, tata bahasa, dan kosakata. Sedangkan menurut pendekatan komunikatif,  belajar bahasa bertujuan untuk mendapatkan kemampuan komunikatif.
  • Dalam metode audiolingual, guru berperan sebagai pengarah dan pengawas proses belajar. Sedangkan dalam pendekatan komunikatif guru berperan sebagai fasilitator dan motivator proses belajar. 
Communicative language teaching (CTL) adalah pendekatan pengajaran bahwa hasil dari fokus komunikasi sebagai organisasi utama untuk mengajar daripada fokus ke tata bahasa sistem bahasa. Wilkins menguraikan daftar komponen-komponen kemampuan komunikasi lebih efisien, yaitu sebagai berikut.
  1. Mempertimbangkan kemungkinan detail untuk tujuan sebagi target bahasa.
  2. Beberapa ide dijadikan setting ketika mereka ingin menggunakan target bahasa.
  3. Peran sosial akan mengasumsikan para pelajar untuk target bahas mereka.
  4. Acara komunikasi yang mana para partisipans dapat turut serta.
  5. Fungsi bahasa dalam acara komunikasi tersebut, apa yang para pelajar dapat lakukan dan sampaikan.
  6. Pengembanagn nosi.
  7. Keahlian kerjasama, bisa pidato atau keahlian teatrikal.
  8. Varietas target bahasaakan diperlukan dan level ini dalam kemampuan berbahasa bicara maupun menulis.
  9. Isi tata bahasa akan dibutuhkan.
  10. Isi leksikal akan dibutuhkan.

H.    Munculnya Pendekatan Kurikulum dalam Pengajaran Bahasa
Ada emapat pertanyaan yang paling fundamental yang harus dijawab mengenai perkembangan kurikulum dan rencana pembelajaran, sebagai berikut.
  1. Apa tujuan pendidikan yang harus sekolah cari untuk berhasil dalam mencapai tujuan?
  2. Apa pengalaman pendidikan dapat dijadikan tambahan tujuan untuk berhasil dalam mencapai tujuan?
  3. Bagaimana pengalaman pendidikan dapat efektif dan teroganisir?
  4. Bagaimana kita dapat menemukan tujuan untuk berhasil dalam mencapai tujuan? (Tyler,  1950: 1)
Model yang lebih sederhana, terlihat seperti berikut ini.

Maksud dan tujuan
Isi
organisasi
evaluasi

Nicholls dan Nicholls (1972, 4), menguraikan perkembangan kurikulum 4 tahap:
  1. Pemeriksaan cermat, menggambar pada semua sumber yang tersedia pengetahuan dan penilaian, tujuan pengajaran, baik dalam kursus mata pelajaran tertentu atau melalui kurikulum secara keseluruhan.
  2. Penggunaan pengembangan dan uji coba di sekolah-sekolah dari metode-metode dan materi yang dinilai paling suka untuk mencapai tujuan yang disepakati guru.
  3. Dalam penilaian sejauh mana pekerjaan pembangunan pada kenyataannya mencapai tujuannya. ini bagian dari proses dapat diharapkan untuk memprovokasi pemikiran baru tentang tujuan sendiri.
  4. Elemen terakhir adalah karena umpan balik dari semua pengalaman yang diperoleh, untuk memberikan titik awal untuk studi lebih lanjut.
Clark mengidentifikasi komponen proses pembaruan kurikulum sebagai berikut.
  1. Penelaahan terhadap prinsip-prinsip untuk memandu bahasa mengajar/ proses belajar dalam terang teori linguistik terapan dan pengalaman kelas.
  2. Dengan pengerjaan ulang silabus mewujudkan tujuan, sasaran, konten, dan metodologi yang luas.
  3. Meninjau kembali strategi kelas mengajar/ strategi pembelajaran.
  4. Pilihan, adaptasi, dan kreasi sumber mewujudkan pengalaman belajar yang sesuai.
  5. Meninjau kembali desain penilaian untuk memonitor, melaporkan, dan memberikan timbal balik kemajuan pembelajar.
  6. Meninjau kembali skema ruang kelas dan bekerjasama.
  7. Meninjau dan penciptaan desain strategi untuk membantu guru untuk mengevaluasi praktik kelas dan untuk meningkatkan mereka.
  8. Identifikasi daerah-daerah penelitian  untuk menentukan kemungkinan cara tercepat di setiap area.
  9. Meninjau kembali dan merancang pelayanan pendidikan yang dirancang untuk membantu para guru untuk memperluas basis konseptual dan pragmatis di bidang tertentu, dan untuk mencari solusi untuk masalah kelas mereka sendiri.
I.    Kesimpulan
Berdasarkan pemaparan makalah di atas, dapat disimpulkan bahwa beberapa pendekatan pembelajaran di atas dapat diaplikasikan dalam pembelajaran bahasa Indonesia.  Di antaranya adalah pendekatan struktural, pendekatan audiolingual, pendekatan  English for Specific Purposes (ESP) atau yang lebih umumnya disebut dengan Languages for Specific Purposes (LSP) untuk pengajaran bahasa Indonesia bagi penutur asing, serta pendekatan komunikatif. Dengan pengaplikasian berbagai pendekatan tersebut, diharapkan pembelajaran bahasa, khususnya bahasa Indonesia berlangsung lebih menyenangkan dan menghasilkan lulusan-lulusan yang berkompeten. Pendekatan serta berbagai metode pembelajaran juga harus selalu berkembang agar mutu pendidikan semakin baik. Berkembangnya pendekatan serta berbagai metode pembelajaran juga memengaruhi perubahan kurikulum yang tentunya mengarah pada perbaikan mutu pendidikan.

J.    Kajian Pustaka

Djunaidi. (1988). Pengembangan materi pengajaran Bahasa Inggris berdasarkan pendekatan linguistik konstransif (teori dan praktek). Jakarta: Depdikbud.

Richard, Jack J. (2001). Curriculum develpomen in language teaching. Cambridge: CambridgeUniversity Press.

Slameto. (2003). Belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Jakarta : PT Rineka Cipta.


Disusun untuk Memenuhi Tugas
Mata Kuliah Kurikulum Pendidikan Bahasa Indonesia
yang Diampu oleh Prof. Dr. Haryadi

oleh:
Immawati Fitri Lestari
Devy Anggraeny Ina Mustafa
Eviana Katika Dewi Yuliati



Penilaian Bahasa: Informasi, Pertimbangan, dan Keputusan

Pengantar
Pendidikan dan pembelajaran pada hakikatnya merupakan suatu proses untuk mencapai sejumlah tujuan. Penilaian yang dimaksudkan untuk mengukur kadar pencapaian tujuan itu, yang dengan sendirinya juga harus merupakan suatu proses hendaknya dilakukan secara berkesinambungan selama berlangsungnya kegiatan pembelajaran. Pemahaman guru terhadap proses penilaian merupakan bagian penting dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah. Selama ini, beberapa guru (pendidik) menilai hanya berdasarkan perasaan atau hanya mengandalkan observasi sehingga nilai yang dihasilkan cederung subjektif.

Pada hakikatnya, kegiatan penilaian yang dilakukan tidak semata-mata untuk menilai hasil belajar peserta didik saja, tetapi juga menilai berbagai faktor, antara lain kegiatan pengajaran yang dilakukan itu sendiri. Artinya, berdasarkan informasi hasil belajar dapat dijadikan umpan-balik terhadap pembelajaran yang dilakukan. Ketidakberhasilan ujian bukan semata-mata kegagalan peserta didik tetapi mungkin karena kegagalan pendidik dalam mengajar.

Hasil penilaian pendidik yang diberikan kepada peserta didik dipandang sebagai nasib bagi peserta didik itu sendiri. Artinya, peserta didik yang tidak mendapatkan nilai yang tinggi sulit untuk mendapatkan sekolah yang diinginkan karena lapangan pekerjaan dan sekolah tertentu menjadikan nilai sebagai ukuran. Profesionalisme pendidik dalam penilaian turut menjadi pendukung untuk menentukan nilai seobjektif mungkin. Dengan demikian, maka yang perlu dipahami oleh pendidik adalah hakikat penilaian dan fungsinya, tujuan pembelajaran dan penilaian, serta alat penilaian.

A.    Hakikat Penilaian dan Fungsinya
Penilaian berurusan dengan data kuantitatif dan kualitatif, sedangkan pengukuran yang hanya bagian penilaian itu selalu berhubungan dengan data kuantitatif. Penilaian memerlukan data kuantitatif dari pengukuran. Sebaliknya, pengukuran juga sangat terikat pada penilaian khusus yang berkaitan dengan masalah tujuan dan kriteria yang dipergunakan. Pengukuran dan penilaian ini dilakukan hanya dengan mengambil sampel tentang suatu hal yang akan diketahui karena tak mungkin mengukur semua kemampuan peserta didik, dan peserta didik sendiri tak mungkin menunjukkan semua kemampuannya dalam sebuah proses pengukuran.

Penilaian adalah proses memperoleh dan mempergunakan infomasi untuk membuat pertimbangan yang dipergunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Dengan demikian, terdapat tiga komponen penting penilaian, yaitu informasi, pertimbangan, dan keputusan. Informasi memberikan data-data (baik kuantitatif maupun kualitatif) yang berguna untuk pembuatan pertimbangan. Pertimbangan dimungkinkan tepat jika informasi yang diperoleh dan interpretasi terhadapnya juga tepat. Pertimbangan adalah taksiran kondisi yang ada kini dan prediksi keadaan pada masa mendatang. Keputusan yang diambil berdasarkan kedua komponen tersebut adalah pilihan di antara berbagai arah tindakan atau sejumlah alternatif yang ada.

Langkah-langkah penilaian menurut Buchori (1972) adalah persiapan (berisi penetapan tujuan, aspek yang dinilai, metode, penyusunan alat, penetapan kriteria, dan frekuensi penilaian), pengumpulan data, pengolahan data hasil penilaian, penafsiran, dan penggunaan hasil. Langkah-langkah penilaian menurut Ten Brink (1974) terdiri tahap-tahap persiapan yang berupa pemerincian pertimbangan dan keputusan yang akan dibuat, informasi yang diperlukan dan pemanfaatan yang ada, penentuan waktu dan cara, dan penyusunan alat, tahap pengumpulan data yang diteruskan analisis terhadapnya, dan tahap penilaian yang berupa pembuatan pertimbangan dan keputusan, dan diteruskan dengan pembuatan laporan hasil penilaian.

Tujuan dan fungsi penilaian antara lain adalah untuk mengetahui kadar pencapaian tujuan, memberikan sifat objektivitas pengamatan tingkah laku hasil belajar siswa, mengetahui kemampuan siswa dalam hal-hal tertentu, menentukan layak tidaknya seorang siswa dinyatakan naik kelas atau lulus, dan untuk memberikan umpan-balik bagi kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan.

B.    Tujuan Pembelajaran dan Penilaian
Tujuan pembelajaran dan penilaian yang memberi arah dan pegangan yang jelas, memaksa kita untuk berpijak pada kenyataan dan berpikir secara konkret. Bagi pendidik, pembelajaran dan penilian akan membantu untuk memilih bahan, metode, teknik, dan alat penilaian. Bagi peserta didik, ia dapat dimanfaatkan sebagai pengorganisator dan kerangka kerja untuk memperoleh ilmu.

Tujuan pembelajaran dan output hasil belajar adalah dua hal yang erat berkaitan. Tujuan menyarankan bentuk-bentuk tertentu output pembelajaran, sebaliknya, tingkah laku keluaran belajar merupakan realisasi pencapaian tujuan. Output pembelajaran, oleh Gagne, dibedakan dalam bentuk keterampilan intelektual (yang berisi kemampuan membedakan, konsep, aturan, dan aturan tingkat tinggi), strategi kognitif, informasi verbal, keterampilan motor, dan sikap. Pembagian Bloom yang terkenal dengan sebutan taksonomi Bloom yang terdiri atas aspek kognitif, afektif, dan psikomotor banyak diikuti orang, termasuk kurikulum di Indonesia.

Proses identifikasi tujuan khusus merupakan proses analisis dan identifikasi output pembelajaran. Tujuan khusus menyaran pada tingkah laku output pembelajaran yang operasional, artinya mudah diamati diukur dengan alat penilaian. Tiap tujuan khusus harus mengandung unsur sasaran, tingkah laku yang diharapkan, kondisi sewaktu dinilai, dan kriteria keberhasilan. Tidak seperti halnya tujuan umum, tujuan khusus memiliki cakupan bahan yang terbatas.

Penyusunan alat penilaian harus mendasarkan diri pada tujuan agar dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Alat penilaian dikatakan memenuhi kriteria kelayakan jika dapat mengukur output yang konsisten dengan tujuan. Tujuan akan menentukan tingkah laku guru dan murid dan bentuk output yang terukur.

Bahan pembelajaran merupakan pengantara tujuan dan alat penilaian. Dengan kata lain, ia merupakan sarana tercapainya tujuan dan sumber penyusunan alat penilaian. Karena bahan pembelajaran memegang peranan penting, ia perlu dideskripsikan secara terinci karena hal itu juga dapat dimanfaatkan untuk menguji kesahihan isi alat penilaian itu sendiri.

C.    Alat Penilaian
Ada dua macam alat penilaian yaitu, teknik tes dan teknik nontes. Baik teknik tes maupun nontes keduanya dapat dimanfaatkan secara efektif jika dipergunakan secara tepat, dan itu tergantung dari tujuan penilaian. Teknik nontes misalnya berupa kegiatan kuesioner, wawancara, pengamatan, dan pengukuran kecenderungan tertentu dengan mempergunakan skala. Skala merupakan suatu kesatuan sebagai penanda unit-unit yang bersifat angka yang disusun secara berjenjang. Tiap jenjang melambangkan sikap dan keyakinan tertentu.

Teknik wawancara baik secara bebas maupun terpimpin, dalam kaitannya dengan penilaian kebahasaan, dapat dipergunakan juga untuk menilai keterampilan, kelancaran, dan kefasihan berbicara siswa dalam bahasa yang diajarkan. Kegiatan pengamatan baik yang berstruktur maupun tak berstruktur dapat dimanfaatkan untuk menilai tingkah laku hasil belajar bahasa peserta didik yang terlihat dalam kegiatan sehari-hari. Tingkah laku dalam situasi seperti itu bersifat wajar, tidak dibuat-buat, dan lebih mencerminkan keadaan yang sesungguhnya.
Tes adalah seperangkat tugas atau pertanyaan yang dipergunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan, atau bakat yang dimiliki seseorang atau kelompok. Dan segi jawaban siswa, tes dapat dibedakan ke dalam tes perbuatan dan tes verbal. Tes buatan pendidik disusun berdasarkan tujuan-tujuan khusus dan deskripsi bahan yang disusun guru untuk mengukur keberhasilan siswa mencapai tujuan, jadi yang terpenting dapat dipertanggung­jawabkan dari jenis kesahihan isi. Tes buatan guru biasanya tingkat ketepercayaannya rendah atau tak diketahui.

Tes standar disusun berdasarkan tujuan-tujuan umum seperti yang terdapat dalam kurikulum. Oleh karena telah mengalami beberapa kali uji coba dan revisi, tes standar dapat dipertanggungjawabkan dari segi kelayakan, kesahihan, ketepercayaan, dan ketertafsiran. Tes standar berguna untuk melengkapi informasi tertentu tingkat hasil belajar peserta didik, membuat perbandingan prestasi peserta didik, dan berfungsi diagnostik.

Tes kemampuan awal dapat dibedakan menjadi pretes, yang dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan peserta didik sebelum mengalami proses belajar, tes prasyarat, yang dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan tertentu disyaratkan untuk masuk pendidikan tertentu, dan tes penempatan yang dimaksudkan untuk menempatkan siswa sesuai dengan kemampuannya.

Tes diagnostik dimaksudkan untuk menemukan kelemahan-kelemahan peserta didik dalam hal tertentu untuk kemudian diremidi. Tes formatif dimaksudkan untuk mengukur kadar keberhasilan peserta didik mencapai tujuan, yaitu berkaitan dengan pokok bahasan yang baru saja diselesaikan dalam proses belajar-mengajar. Bagi pendidik, tes formatif dapat untuk menilai efektivitas pengajaran, sedang bagi peserta didik dapat berfungsi sebagai penguat.

Tes sumatif dimaksudkan untuk mengukur kadar pencapaian peserta didik terhadap tujuan umum, yang meliputi seluruh bahan yang diprogramkan pada periode tertentu. Informasi tes sumatif dipergunakan untuk menentukan prestasi peserta didik, naik-tidak dan atau lulus­tidak-nya seorang peserta didik, serta untuk membuat laporan kepada pihak tertentu.

Tes esai merupakan tes proses berpikir yang melibatkan aktivitas kognitif tingkat tinggi, menuntut kemampuan peserta didik untuk menerapkan pengetahuan, menganalisis, menghubungkan konsep-kon­sep, menilai, dan memecahkan masalah. Kelemahan pokok tes esai adalah rendahnya kadar kesahihan dan ketepercayaan akibat terbatasnya sampel bahan, jawaban peserta didik yang bervariasi, dan penilaian yang bersifat subjektif. Untuk mengurangi sifat subjektif dalam penilaian, perlu ditentukan kriteria penilaian yang menyangkut isi, organisasi, proses, kesimpulan dan alasan dengan bobot yang tidak harus sama.

Tes objektif menghendaki hanya satu jawaban yang benar, maka penilaiannya dapat secara objektif, cepat, dan dapat dipercaya. Karena jumlah soal relatif banyak, tes objektif dapat mencakup bahan secara lebih menyeluruh. Tes objektif yang baik tidak mudah disusun, memerlukan waktu lama, dan ada kecenderungan pendidik hanya terpusat pada pokok bahasan dan tingkatan aspek kognitif tertentu. Dalam mengerjakannya, siswa dapat bersifat untung-untungan.

Tes objektif dapat berupa benar-salah, pilihan ganda, melengkapi, dan penjodohan. Tes benar-salah bisa dipakai karena hasil belajar yang berupa penguasaan pengetahuan verbal yang dinyatakan dalam bentuk proposisi dapat dinyatakan secara benar atau salah. Tes pilihan ganda merupakan tes benar-salah dengan pernyataan salah lebih banyak. Tes isian adalah tes pilihan ganda tapi siswa mengisi sendiri pilihan yang benar, sedang penjodohan semua pernyataan yang benar ditunjukan sekaligus.

Tes yang baik adalah yang dapat dipertanggungjawabkan dari segi kelayakan (appropriateness), kesahihan (validity), ketepercayaan (reliability), efektivitas butir soal, dan kepraktisan (practicality). Kelayakan tes berkaitan dengan masalah apakah suatu tes dapat mengukur output hasil belajar yang konsisten dengan tujuan; apakah semua tujuan telah memiliki alat ukur yang sesuai; apakah jumlah butir soal per tujuan telah mencerminkan kadar pentingnya tujuan; dan apakah semua butir soal telah mengacu ke tujuan tertentu.

Butir-butir tes harus mencerminkan materi pelajaran yang diajarkan. Semua bahan yang diajarkan perlu diambil tesnya, dan sebaliknya, tes harus hanya terbatas pada bahan yang diajarkan. Untuk memudahkan pengecekan hal itu, pembuatan soal hendaknya mendasarkan diri pada tabel spesifikasi. Kelayakan tes dalam hal ini, merupakan salah satu jenis kesahihan, kesahihan isi.

Kesahihan tes menunjuk pada pengertian apakah suatu tes dapat mengukur apa yang akan diukur. Tes yang sahih akan dapat membedakan siswa yang memang berkemampuan yang lebih baik daripada yang sebaliknya. Kesahihan tes yang baik akan mengungkap semua tingkatan aspek kognitif, dan tidak hanya terbatas pada beberapa tingkatan kognitif yang sederhana saja.

Kesahihan tes dibedakan berdasarkan analisis rasional, kesahihan isi dan konstruk atau konsep, dan berdasarkan data empirik, serta kesahihan kriteria atau ukuran. Kesahihan isi menunjuk pada pengertian apakah suatu tes mempunyai kesejajaran dengan tujuan deskripsi bahan yang diajarkan. Tujuan dan bahan biasanya dikembalikan kepada kurikulum, maka kesahihan isi disebut juga sebagai kesahihan kurikuler. Di pihak lain, kesahihan konstruk menunjuk pada pengertian apakah tes yang disusun telah sesuai dengan konstruk ilmu bidang studi yang diteskan. Kesahihan ukuran mempermasalahkan seberapa jauh peserta didik yang sudah diajar dalam bidang tertentu mempunyai kemampuan yang tinggi daripada yang belum diajar. Jika subjeknya sama, membandingkan hasil belajar itu dapat mendasarkan diri pada hasil pretes dan postes.

Pengujian kesahihan dalam berbagai jenis di atas merupakan pengujian kesahihan secara keseluruhan. Pengujian tingkat kesahihan dapat dilakukan secara per butir soal, yaitu dengan mengorelasikan skor-skor tiap butir tes dengan skor keseluruhan. Tes yang kesahihannya tinggi, biasanya tinggi pula kesahihan butir­butirnya, walau mungkin terdapat beberapa butir tes yang kurang sahih.

Ketepercayaan tes menunjuk pada pengertian apakah suatu tes dapat mengukur secara konsisten sesuatu yang akan diukur dari waktu ke waktu. Konsisten berarti (i) tes dapat memberikan hasil yang relatif tetap terhadap sesuatu yang diukur, (ii) jawaban siswa terhadap butir-butir tes relatif tetap, (iii) hasil tes diperiksa siapa pun menghasilkan skor yang kurang lebih sama.

Hasil pengukuran tidak hanya mencerminkan berapa banyak peserta didik berhasil dalam belajar, tetapi juga bagaimana keakuratan tes itu sendiri. Keakuratan tes akan memengaruhi skor yang diperoleh siswa, maka skor itu tidak akan secara sempurna mencerminkan kemampuan yang sebenarnya. 

Pengujian reliabilitas tes dengan teknik bentuk paralel dilakukan dengan menyediakan dua perangkat tes yang bersifat paralel atau ekuivalen. Setelah kedua perangkat tes itu dicobakan, hasilnya dikorelasikan. Untuk meningkatkan keterpercayaan butir tes, hendaknya dibuat butir-butir tes yang secukupnya. Butir tes yang semakin banyak akan semakin mempertinggi tingkat ketepercayaan tes, walau se­telah dalam jumlah tertentu peningkatan itu kecil.

Peningkatan ketepercayaan tes juga dilakukan dengan memilih butir-butir soal yang indeks tingkat kesulitan dan daya bedanya memenuhi persyaratan. Untuk keperluan ini, kita perlu melakukan analisis butir soal. Bahasa yang dipergunakan dalam tes harus jelas, mudah dipahami, tidak bersifat ambigu, dan tidak membingungkan, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.

Kondisi pelaksanaan tes harus dikontrol sebaik-baiknya agar hal itu tidak memengaruhi penampilan peserta didik. Dalam memeriksa pekerjaan peserta didik, kita harus menghindari sifat subjektivitas diri, terutama dalam tes esai. Oleh karena itu, sebelum memeriksa pekerjaan peserta didik hendaknya membuat pedoman penilaian.

Analisis butir adalah analisis hubungan antara skor-skor butir soal dengan skor keseluruhan, membandingkan jawaban peserta didk terhadap suatu butir soal dengan jawaban terhadap keseluruhan tes. Tujuan analisis adalah membuat tiap butir tes konsisten dengan keseluruhan tes dan menilai efektivitas tes sebagai alat pengukuran.
Analisis butir dilakukan untuk mencari indeks tingkat kesulitan, daya beda, dan efektivitas distraktor. Butir soal yang baik adalah yang tidak terlalu sukar atau terlalu mudah yang indeksnya berkisar antara 0,20 sampai dengan 0,80, yang mampu membedakan antara peserta kelompok kelompok tinggi dan rendah yang indeks daya bedanya paling tidak sebesar 0,20 serta semua distraktor yang disediakan dipilih.

Penghitungan indeks tingkat kesulitan dan daya beda dapat dilakukan dengan mempergunakan tabel analisis butir soal. Untuk maksud ini, kita harus mencapai proporsi jawaban betul kelompok tinggi dan kelompok rendah, baru kemudian mengkonsultasikannya kepada tabel. Butir soal yang indeks tingkat kesulitan dan daya bedanya tidak memenuhi persyaratan disarankan untuk direvisi.

Distraktor seharusnya dipilih oleh siswa kelompok rendah secara lebih banyak. Jika terjadi sebaliknya, kelompok tinggi yang lebih banyak memilih, atau ada distraktor yang tak dipilih, distraktor yang bersangkutan disarankan untuk direvisi. Tingkat ketepercayaan tes esai dihitung dengan rumus alpha, sedang indeks tingkat kesulitan serta indeks daya bedanya dicari dengan mempergunakan rumus yang berbeda dengan tes objektif.

Sebuah tes yang baik di samping layak, sahih, dan tepercaya, juga harus memenuhi kriteria kepraktisan. Kriteria kepraktisan dapat dilihat dari segi keekonomisan, kemudahan pelaksanaan, penskoran, dan penafsiran. Sebagai bagian dari kegiatan pembelajaran, penilaian adalah sebuah proses yang melibatkan banyak aspek yang saling terkait. Pelaksanaan penilain yang baik harus dilakukan secara terencana dengan baik yang melibatkan komponen terkait. Hal ini dimaksudkan agar penilaian dapat dipertanggungjawabkan hasilnya sehingga dapat dimanfaatkan sesuai dengan keperluan. Untuk itu, kegiatan pengembangan alat penilaian perlu mengikuti langkah-langkah sebagi berikut. Alat penilaian yang dimaksud dapat berupa ujian semester, tengah semester, atau untuk keperluan yang lain.

1.    Penentuan Spesifikasi Ujian
Dalam penentuan spesifikasi ujian (tes) ini paling tidak terdapat empat hal yang perlu dilakukan, yaitu penentuan kompetensi dasar, pembuatan deskripsi bahan uji, pembuatan kisi-kisi, dan penentuan bentuk soal dan lama (waktu) ujian.
a.    Penentuan Kompetensi Dasar
Semua kegiatan pengujian pasti dimaksudkan untuk mencapai tujuannya. Dalam kaitannya dengan kegiatan pembelajaran, ujian dimaksudkan untuk mengukur seberapa banyak peserta didik dapat mencapai kompetensi yang dibelajarkan atau dipelajari. Kompetensi yang diukur kadar capaiannya adalah kompetensi dasar, dan kompetensi dasar itu dijabarkan dari standar kompetensi. Dalam kurikulum yang digunakan, yaitu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), pengujian dilakukan dengan berangkat dari kompetensi dasar. Standar kompetensi dan kompetensi dasar telah dituliskan pada kurikulum. Dalam pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, standar kompetensi dikaitkan dengan keempat lemampuan berbahasa, yaitu menyimak, membaca, berbicara, dan menulis, serta kesastraan sehingga kompetensi dasar juga akan terkait pokok-pokok bahasan tersebut. kompetensi dasar mana saja yang akan diujikan dalam sebuah ujian tinggal mengambil dari kurikulum.
b.    Pembuatan Deskripsi Bahan Uji
Jika kompetensi dasar yang akan ditagih capaiannya telah jelas, pengembangan bahan ajar yang akan dibelajarkan untuk meraih kompetensi yang dimaksud akan relatif mudah dilakukan. Pembuatan deskripsi bahan ajar yang meliputi materi pokok dan uraian materi haruslah dilakukan untuk memastikan bahan ajar apa saja yang akan diujikan. Sebetulnya, dalam pembuatan rencana program pembelajaran (RPP) tentunya deskripsi bahan ajar yang dimaksud juga telah dilakukan. Dengan demikian, dalam rangkaian pengembangan alat pengujian, kita tinggal menunjuk kembali bahan-bahan yag telah disebut RPP itu.
c.    Pembuatan Kisi-kisi Pengujian
Pengembangan alat pengujian harus mengukur semua kompetensi dasar (yang tercermin dalam bahan ajar dan indikator) secara proporsional terhadap semua kompetensi dasar yang diujikan. Proporsional tidak dimaknakan sma persis jumlah butir soal untuk tiap indikator, melainkan berdasarkan pertimbangan tertentu, misalnya pentingnya sebuah kompetensi dasar untuk mendukung capaian standar kompetensi atau diperlukan untuk mendukung capaian konpetensi yang lain. Agar kegiatan pengembangan dapat dilakukan dengan baik dan dapat dipertanggungjawabkan, pembuatan butir-butir soal harus mendasakran diri pada kisi-kisi yang sengaja dirancang untuk maksud itu. Dengan kata lain, sebelum menulis butir-butir soal, terlebih dahulu harus membuat kisi-kisi. Kisi-kisi itulah yang harus dijadikan acuan menulis butir-butir soal.
d.    Penentuan Bentuk Soal dan Lama Ujian
Selanjutnya harus juga direncanakan bentuk soal yang akan dipilih, misalnya apakah bentuk objektif dengan segala subjenisnya (pilihan ganda, benar-salah, pejodohan, isian singkat), uraian objektif, uraian esai (nonobjektif), atau gabungan dari beberapa bentuk tersebut. dalam ujian akhir di sekolah,pilihan yang banyak dilakukan adalah soal objektif pilihan ganda. Selain itu, untuk menentukan berapa jumlah butir soal yang akan diujikan, harus memperhitungkan waktu yang tersedia. Lama waktu ujian menentukan berapa banyak soal yang mesti dibuat. Kiranya tidak bijaksana jika waktu yang tersedia relatif pendek, tetapi jumlah butir soal yang dibuat banyak. Demikian pula sebaliknya. Untuk itu, perlu dibuat perkiraan berapa lama waktu yang diperlukan untuk mengerjakan tiap butir soal sehingga antara keduanya terdapat kesesuaian.

2.    Penulisan Butir Soal
Penulisan butir soal tidak lain adalah membuat tagihan sesuai dengan tuntutan indikator dan yang sesuai pula dengan bahan ajar. Jadi, butir-butir soal haruslah cocok dengan bunyi “tuntutan” indikator yang bersangkutan sebagaimana tercermin pada kata kerja operasionalnya. Misalnya, jika indikator menuntut peserta didik untuk mampu menulis, maka mereka harus benar-benar berunjuk kerja menulis, dan tidak sekadar memilih. Secara umum, penulisan butir-butir soal harus mendasarkan diri pada kisi-kisi yang telah dibuat sebelumnya. Selain terkait dengan tuntutan tiap indikator, penulisan itu juga terikat dengan bentuk soal, jumlah soal per indikator, dan jumlah keseluruhan butir soal. Yang pasti, ketika menulis butir-butir soal juga melihat rambu-rambu yang digunakan untuk telaah butir soal agar tidak banyak revisi.

3.    Penelaahan Butir Soal
Kebiasaan yang sering terlihat adalah begitu guru selesai menulis soal, baik untuk ujian tengah semester, akhir semester, atau untuk tagihan yang lain, akan langsung diujikan kepada peserta didik tanpa melakukan telaah terlebih dahulu terhadap alat tes yang bersangkutan. Kebiasaan itu, walaupun terlihat praktis, sebenarnya kurang baik dan kurang dapat dipertanggungjawabkan. Hal itu disebabkan alat tes yang ditulis tersebut belum tentu memenuhi berbagai tuntutan butir soal yang baik yang meliputi unsur materi, konstruksi, maupun bahasa. Padahal, sebagai alat uji keberhasian pembelajaran, agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan, ia harus memenuhi persyaratan sebagai alat tes yang baik.

Untuk memastikan bahwa butir-butir soal yang ditulis telah memenuhi tuntutan soal yang baik, sebelum diujicobakan  haruslah terlebih dahulu dilakukan telaah butir soal. Dengan telaah butir soal akan ditemukan berbagai kesalahan atau kekeliruan yang dapat mengganggu, dan sebaliknya, juga dapat dipastikan kualitas butir soal yang bersangkutan. Jika terdapat sejumlah kesalahan, kekeliruan, dan kekurangtepatan akan dapat dilakukan revisi, pembenahan-pembenahan yang diperlukan. Penelaahan sebaiknya dilakukan oleh orang lain yang ahli di bidangnya (sekaligus berfungsi sebagai “penilai”, expert judgement) atau oleh sejawat. Jika telaah dilakukan oleh penulis soal sendiri, biasanya kurang teliti karena penulis boleh jadi hanya “membaca” yang ada di konsep pikiran dan bukan yang di atas kertas.

Penelaahan butir soal dapat disebut juga sebagai telaah kualitatif-redaksional. Kegiatan ini mengandalkan pertimbangan logika, baik yang menyangkut logika keilmuwan (materi), logika penyusunan butir soal (konstruksi), maupun cara membahasakan soal (bahasa). Itulah sebabnya penelaah haruslah dilakukan oleh orang yang ahli di bidang atau sebidang dengan mata pelajaran yang bersangkutan. Dengan demikian, jika terjadi kesalahan atau kekeliruan yang terkait dengan latar keilmuwan, ia dapat mengritisi dan menyarankan revisi. Penelaahan harus dilkukan secara cermat dan objektif.  Jika  dimungkinkan, penelaahan sebaiknya dilakukan oleh lebih dari satu orang sehingga dapat saling melengkapi.

Penelaahan biasanya mempergunakan lembar telaah yang telah disiapkan, dan paling lazim adalah untuk soal objektif bentuk pilihan ganda. Lembar telaah yang dimaksud berisi penyataan-pernyataan yang harus terpenuhi oleh tiap butir soal yang secara garis besar berisi tiga tuntutan dari segi materi, konstruksi, dan bahasa. Tiap aspek dijabarkan menjadi sejumlah pernyataan. Kegiatan penelaahan dilakukan dengan mencermati tiap butir soal dan mencocokkannya dengan butir-butir kriteria pada lembar telaah. Jika sesuai dengan kriteria diberi tanda contreng (√) dan jika sebaliknya diberi tanda hubung (-). Butir-butir yang memunyai ketidaksesuaian dengan tuntutan kriteria harus direvisi atau jika terdapat beberapa ketidaksesuaian harus diganti. Alat evaluasi yang telah ditulis berdasarkan kisi-kisi dan diketahui telah sesuai dengan kriteria lembar telaah dapat dinyatakan sebagai telaah yang memenuhi validitas isi (content validity) sebuah alat tes. Validitas isi adalah validitas alat evaluasi yang harus terpenuhi dalam pengembangan alat evaluasi hasil pembelajaran.

Berikut adalah salah satu bentuk lembar telaah butir soal tes bentuk pilihan ganda. Namun, perlu dicatat bahwa lembar telaah memiliki beberapa model. Model-model itu biasanya menampilkan unsur-unsur kriteria (persyaratan) untuk tiap komponen, yaitu materi, konstruksi, dan bahasa, yang belum tentu sama. Tetapi, ada juga model yang tidak menyebut ketiga komponen itu. Namun, pada intinya tiap model menampilkan sederet persyaratan yang harus dipenuhi oleh tiap butir soal yang akan diujikan. Hasil telaah yang dilakukan sejawat harus ditindaklanjuti dengan revisi jika ada saran-saran perbaikan. Penulis soal harus berbesar hati jika diberi saran perbaikan.

4.    Pelaksanaan Uji Coba
Jika semua persyaratan penyusunan butir soal telah selesai dilakukan, langkah berikutnya adalah melakukan uji coba alat evaluasi di kelas. Uji coba adalah pelaksanaan pengukuran dengan mempergunakan instrumen tes yang telah dikembangkan. Dari pelaksanaan pengukuran inilah diperoleh data empirik yang menunjukkan kualitas dan informasi tentang alat tes yang bersangkutan. Misalnya, informasi tentang efektivitas butir-butir soal (tingkat kesulitan, daya beda, butir pengecoh), validitas empirik, reliabilitas, dan lain-lain yang dibutuhkan. Agar hasil uji coba mampu memberikan informasi yang benar, pelaksanaannya harus dilakukan sedemikian rupa sehingga semua berjalan sesuai dengan harapan.

Uji coba alat tes ini amat dibutuhkan jika kita bermaksud menghasilkan alat tes yang benar-benar baik dan dapat dipertanggungjawabkan. Namun, untuk keperluan pengujian di kelas sendiri, uji coba tersebut sekaligus dimaknai sebagai pelaksanaan tes yang sebenarnya. Artinya, hasil ujian itulah yang dimaknai sebagai capaian peserta didik menguasai berbagai kompetensi yang dibelajarkan. Para guru, tampaknya, tidak melakukan uji coba terhadap alat tes yang dikembangkannya untuk mengukur capaian peserta didik sendiri.

5.    Analisis Butir Soal dan Jawaban
Hasil uji coba alat tes memberikan data empirik untuk keperluan berbagai analisis kuantitatif untuk menilai kualitas alat tes yang bersangkutan dan/ atau melakukan tindak lanjut penilaian. Analisis kuantitatif yang dimaksud bermacam-macam yang pelaksanaanya tergantung kebutuhan, dan beberapa di antaranya adalah analisis butir soal dan analisis jawaban per indikator. Analisis butir soal amat diperlukan kita bermaksud mengembangkan alat evaluasi yang baik dan dapat dipertanggungjawabkan terutama jika kita bermaksud, misalnya menggunakannya dalam penelitian. Di pihak lain, analisis jawaban butir soal per indikator per kemampuan dasar dipergunakan sebagai masukan umpan balik pembelajaran.

a.    Analisis Butir Soal
Analisis butir soal dapat pula dilakukan dengan mendasarkan pada teori pengukuran klasik dapat pula dengan teori pengukuran modern. Analisis butir soal untuk teori pengukuran klasik biasanya dilakukan untuk menghitung indeks tingkat kesulitan (ITK), indeks daya beda (IDB), dan efektivitas distraktor. Indeks tingkat kesulitan akan memberikan informasi tentang seberapa mudah atau sulit sebuah butir soal, indeks daya beda tentang daya sebuah butir membedakan kelompok tinggi dan kelompok rendah, sedangkan efektivitas distraktor tentang kemampuan distraktor untuk mengecoh peserta ujian.

Jika untuk keperluan penilaian kelas sendiri, teori pengukuran klasik lebih praktis digunakan para pengajar. Analisis butir soal dapat dilakukan secara manual dan lewat program komputer. Analisis yang mempergunakan komputer (program Iteman) sekaligus menghasilkan indeks reliabilitas Alpha Cronbach. Namun, apapun teori yang dijadikan dasar analisis, analisis butir soal memberikan informasi yang berharga tentang kualitas tiap butir soal yang diujicobakan. Berdasarkan informasi dari kerja analisis butir inilah kemudian dilakukan pernaikan-perbaikan seperlunya.

b.    Analisis Jawaban
Analisis jawaban tidak lain adalah hasil pengukuran per indikator per kemampuan dasar yang dilakukan dengan menghitung jawaban benar dan salah peserta didik untuk seluruh butis soal yang diujikan. Analisis dimaksudkan untuk mengetahui kemampuan dasar mana saja yang sudah dikuasai peserta didik dan mana yang belum. Seorang peserta didik, misalnya, telah mampu menjawab dengan benar sebesar 80% dari seluruh butir soal yang diujikan dan sisanya yang 20% gagal dijawab dengan benar. Untuk mengetahui dengan pasti indikator dan kemampuan dasar mana saja yang sudah dikuasai dan sebaliknya diperlukan informasi tentang hal tersebut. hal itu berarti diperlukan kerja analisis jawabana per peserta didik per indikator per kemampuan dasar. Berdasarkan hasil telaah itu dapat ditentukan tindak lanjut yang akan diambil, apakah perlu adanya program remidial, pengayaan, atau akselerasi.

Sebuah indikator dan kemampuan dasar dinyatakan dikuasai oleh peserta didik jika tingkat penguasaannya minimal 75%. Jika indikator tertentu dan kemampuan dasar tertentu masih rendah tingkat ketercapaiannya, harus kembali dibelajarkan lewat program remidial. Peserta didik yang tingkat pencapaiannya masih di bawah standar minimal harus diberi program remidial, sedangkan yang sudah memenuhi diberi program pengayaan. Program remidial dapat bersifat individual atau klasikal jika hampir seluruh kelas masih belum mencapai tingkat penguasaan. Jadi, pada intinya adalah ada umpan balik pembelajaran berdasarkan hasil pengukuran sebelumnya, dan hal ini merupakan salah satu fungsi penilaian. Untuk itu, analisis jawaban soal ujian menjadi sebuah keniscayaan.

6.    Perbaikan Butir Soal dan Perakitan Soal Ujian
Hasil kerja analisis butir soal memberikan informasi tentang kondisi tiap buti soal yang diujicobakan. Hasil kerja itu antara lain berupa informasi tentang butir-butir soal yang berindeks kesulitan memenuhi persyaratan dan yang tidak, berdaya beda cukup dan yang tidak, serta butir-butir pengecoh yang efektif dan yang kurang efektif. Bahkan, jika analisis dilakukan dengan komputer, masih banyak informasi lain yang diperoleh dan di antaranya yang amat penting adalah indeks reliabilitas dan kesalahan baku pengukuran. Berdasarkan informasi tersebut dapat dilakukan perbaikan terhadap butir-butir soal tertentu yang perlu diperbaiki, sedangkan yang sudah baik tidak perlu. Bahkan, terhadap butir-butir soal tertentu yang tidak memenuhi persyaratan harus dibuang dan diganti butir soal yang lain jika jumlah keseluruhan butir yang dibutuhkan kurang. Setelah butir-butir soal diperbaiki, butir soal tersebut dirakit untuk dijadikan sebuah perangkat tes yang jadi dan siap digunakan untuk keperluan pengujian.

7.    Pelaksanaan Ujian
Setelah melewati berbagai langkah di atas, penyusunan alat tes sudah selesai dan tinggal kegiatan ujian, sesuai dengan temat dan waktu yang tentunya sudah direncanakan. Agar hasil pengukuran dapat memberikan hasil yang benar, pelaksanaannya harus dilakukan sebaik mungkin dengan pengawasan yang cermat, tetapi tidak mengganggu peserta ujian. Pelaksanaan ujian harus dilakukan dengan serius tetapi tidak menimbulkan tekanan bagi peserta didik.

8.    Penafsiran Hasil Ujian
Pelaksanaan pengujian (setelah diskor) akan menghasilkan data empirik kuantitatif yang berwujud skor-skor untuk tiap peserta didik. Sejalan dengan proses penilaian, skor-skor tersebut ditafsirkan untuk memberikan makna capaian peserta didik. Paling tidak ada tiga makna yang dapat ditafsirkan dari hasil pengujian. Pertama, pemberian makna untuk menentukan nilai seorang peserta didik yang lazimnya diberikan dalam wujud angka atau huruf. Ada dua cara menafsirkan hasil ujian tersebut, yaitu berdasarkan pendekatan acuan kriteria dan pendekatan acuan norma. Namun, untuk menilai hasil belajar peserta didik yang lebih tepat adalah menggunakan acuan kriteria.

Kedua, skor seorang peserta didik dapat juga dimaknai sebagai seberapa banyak ia dapat menyerap, menguasai, atau melakukan berbagai kompetensi yang dibelajarkan. Jika seorang peserta didik mendapat skor 51 dari kemungkinan skor tertinggi 60, hal itu dapat dimaknai bahwa ia mampu menguasai materi pembelajaran sebesar 85%. Artinya, ia telah mencapai tingkat penguasaan. Ketiga, tinggi-rendahnya capaian peserta didik juga dapat diartikan sebagai keberhasilan atau kegagalan guru mereka. Tinggi-rendahnya capaian tersebut dapat dilihat dari rata-rata hitung peserta didik dalam satu kelas. Jika rata-rata hitung ≥75%, hal itu dapat ditafsirkan kelas yang bersangkutan telah mencapai penguasaan minimal.

Kesimpulan
Penilaian adalah proses memperoleh dan mempergunakan infomasi untuk membuat pertimbangan yang dipergunakan sebagai dasar pengambilan informasi. Dengan demikian, terdapat tiga komponen penting penilaian, yaitu informasi, pertimbangan, dan keputusan.

Tujuan dan fungsi penilaian antara lain adalah untuk mengetahui kadar pencapaian tujuan, memberikan sifat objektivitas pengamatan tingkah-laku hasil belajar peserta didik, mengetahui kemampuan peserta didik dalam hal-hal tertentu, menentukan layak-tidaknya seorang peserta didk dinyatakan naik kelas atau lulus, dan untuk memberikan umpan-balik bagi kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan.

Alat penilaian dapat dibedakan menjadi dua macam, teknik tes dan teknik nontes. Baik teknik tes maupun nontes keduanya dapat dimanfaatkan secara efektif jika dipergunakan secara tepat, dan itu tergantung dari tujuan penilaian.

Daftar Pustaka
Burhan Nurgiantoro. (1994). Penilaian dalam pengajaran bahasa dan sastra. Yogyakarta: BBFE-Yogyakarta.
Depdikbud. (1983). Penilaian dalam pendidikan. Jakarta: Dikti.
Abdul Ghofur. (2004). Pedoman umum pengembangan penilaian. Jakarta: Puskur.
Dali S. Naga. (1992). Pengantar teori skor pada pengukuran pendidikan. Jakarta: Gunadarma.
Ngalim Purwanto. (2002). Prinsip-prinsip dan teknik evaluasi pengajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Sumarna Surapranata. (2004). Panduan penulisan tes tertulis implementasi kurikulum 2004. Bandung: Remaja Rosdakarya.